Peristiwa

Terlilit Utang Online, Guru TK di Malang Diteror Debt Collector

Mawar (nama samaran) warga Sukun, Kota Malang bekerja sebagai seorang guru TK terlilit hutang 24 perusahaan online dengan nominal Rp40 juta.

Malang (beritajatim.com) – Mawar (nama samaran) warga Sukun, Kota Malang bekerja sebagai seorang guru TK terlilit utang di 24 perusahaan online dengan nominal Rp40 juta. Utang ini dia lakukan demi menempuh S1 sebagai syarat mengajar di tempat dia bekerja. Ijazah yang dia miliki saat ini baru D2.

“Saya itu kerja di lembaga (TK) itu sudah 12 tahun. Lah pada tahun kemarin itu dituntut guru harus S1 dan saya masih D2. Terus saya gajinya itu cuma Rp400 ribu nah biayanya per semester itu Rp2,5 juta. Saya mikir apa bisa? Akhirnya dikenalkan sama teman pinjaman online itu,” kata Mawar, Senin, (17/5/2021).

Utang awalnya dilakukan pada 5 perusahaan pinjaman online. Sebab, masing-masing perusahaan hanya menyediakan limit Rp500 hingga Rp600 ribu saja. Dia tertarik selain disarankan teman juga karena syaratnya cukup mudah. Yaitu KTP dan identitas pribadinya. Sialnya, bunga pinjaman online cukup besar. Satu perusahaan pinjaman online bunga pinjaman sebesar hingga 100 persen dari pinjaman awal.

“Karena limitnya kan tidak banyak kalau awal jadi pinjam ke-5 (perusahaan) langsung. Jadi saya itu pinjam Rp600 ribu tapi saya suruh bayar Rp1,2 juta. Ada 100 persen bunganya tapi karena kepepet saya iya saja. Temponya, awalnya tujuh hari. Tapi tidak sampai tujuh hari, lima hari saja sudah langsung ditagih saya diteror (debt collector),” papar Dia.

Tidak mampu membayar pinjaman online karena tempo yang singkat dan bunga yang cukup besar, dia merasakan teror langsung dari debt collector. Teror yang dia terima tidak kenal waktu, mulai pagi hingga malam hari. Handphonenya terus berdering karena panggilan juru tagih perusahaan pinjaman online ini.

Lalu dia dibuat malu, karena dibuatkan grup facebook berisikan suami, anak, keluarga dan saudara-saudaranya yang diberi nama ‘open donasi untuk pengutang’. Ancaman yang dia terima beragam, mulai teror pembunuhan, teror digorok lehernya hingga diminta untuk menjual diri agar bisa membayar utang pinjaman online.

“Saya pun berpikir sampai ingin bunuh diri. Tapi kasihan anak saya masih umur lima tahun. Saya juga dibilang suruh jual diri,” tuturnya sambil meneteskan air mata.

“Tapi saya bagaimana lagi belum ada uang. Hingga saya pinjam sampai 24 (perusahaan) pinjaman online dan utangnya sampai Rp40 juta lebih. Jadi saya bayar utang dengan utang sampai tergulung utang sendiri,” imbuhnya.

Nasib apes kembali dia terima. Setelah dia jujur kepada keluarga dan kepada lembaga pendidikan tempat dia bekerja. Justru pemecatan yang dia terima. Alasannya TK malu kepada wali murid. Sedangkan alasan utama dia utang adalah untuk menempuh S1 sebagai syarat dia mengajar di lembaga pendidikan ini.

“Saya kan dikenalkan juga oleh komunitas anti riba. Lah di komunitas itu saya disuruh jujur ke keluarga saya. Keluarga saya okey. Dan suruh jujur juga ke lembaga saya, tapi setelah saya beri tahu ke teman kerja. Besoknya saya dipecat. Tapi kok malah saya dipecat. Saya ini cuma butuh support. Tapi alasan pemecatannya karena malu sama wali murid,” ujar Mawar.

Saat ini bersama seorang pengacara bernama Slamet Yuono. Dia dibantu untuk melapor ke Satgas Investasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Mabes Polri. Mawar diberi saran untuk membayar ke-5 perusahaan pinjaman online. Karena dari 24 perusahaan hanya 5 yang berstatus legal.

“Saya juga disarankan untuk membayar utang dulu ke-5 pinjaman online yang legal. Dari 24 itu yang legal cuma 5, sisanya ilegal. Saya sudah bayar satu tapi pokoknya saja. Dan empatnya masih negosiasi. Uang untuk bayar itu saya dapatkan dari donasi,” tandasnya. [luc/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar