Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Sambil Pegang Fotonya Bersama Jokowi, Pedagang Kopi Magetan Ini Ungkap Keresahan

Magetan (beritajatim.com) – Nasib pasutri penjual kopi asal Kelurahan Selosari, Magetan terkatung-katung. Mereka berdua masih belum bisa berjualan usai sebulan diusir dari lokasi jualan sebelumnya yakni di Jalan Diponegoro Magetan, tepatnya di depan Rumah Promosi IKM Kulit, kelurahan setempat.

Tempat yang dijanjikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Magetan tidak jelas. Hingga kini mereka tak bisa memperoleh penghasilan hingga terpaksa menjual motor dan ayam. Bahkan, uang kuliah dan biaya kos anaknya belum terbayar.

Sujimiati hanya teringat kalau dirinya memiliki foto dirinya bersama Presiden Joko Widodo saat sempat berdialog beberapa tahun silam. Sambil berlinang air mata, wanita 59 tahun itu hanya menangis sedih dan berharap presiden kembali mendengarkan keluh kesahnya sebagai pedagang kecil yang terusir dan tak ada tempat untuk berjualan.

“Ini pak saya tergusur tidak dikasih tempat untuk jualan. Mohon diberi tempat yang jelas, jangan bohong. Ini saya pak, bu Jit masih kenal nggak pak Jokowi sama saya. Kalo dikasih mbok ndang dikasih kalo ngak ya bilang nggak,” kata Sujitmiati, Rabu (8/3/2022).

Dirinya benar-benar bingung harus menjual apalagi selain benda yang dimilikinya. Tak hanya uang kuliah dan biaya hidup anaknya yang berada di luar kota, dirinya juga bingung bagaimana melunasi biaya pinjaman. Belum lagi biaya hidupnya sendiri tinggal di Magetan.

“Pak Jokowi tolong saya orang kecil, sudah satu bulan tidak kerja tidak jualan angsurannya pinjaman gimana pak wong gak dapat penghasilan. Anak bayar sekolah butuh makan tiap harinya. Jualan sehari dimakan sehari, bukan jualan sehari bisa dimakan seminggu,” ungkapnya.

Bu Jit saat ini merasa hanya diberi harapan palsu oleh Pemkab Magetan soal tempat relokasi di bekas TPS yang berada di seberang jalan dari tempat jualanya semula. Dirinya yang buta huruf merasa hanya diberi harapan dan janji janji.

“Bila memang tempat di bekas TPS boleh ditempati bilango boleh. Bila tidak boleh bilang gak boleh jadi saya tidak mengharap lagi. Bila boleh maka akan saya bersihkan agar dapat berjualan lagi untuk menyambung hidup,” pungkasnya. [fiq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar