Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Perubahan Tata Guna Lahan Diduga Penyebab Banjir Bandang di Batu

Direktur Utama Jasa Tirta I Raymond Valiant.

Malang (beritajatim.com) – Perubahan tata guna lahan yang luar biasa dibagian barat Kota Batu diduga menjadi penyebab banjir bandang pada Kamis, (6/11/2021) lalu. Banjir bandang ini terjadi di anak sungai Brantas, 7 orang menjadi korban meninggal dunia dan puluhan rumah rusak akibat terjangnya banjir ini.

“Jadi pertama perubahan tata guna lahan yang terjadi secara luar biasa di bagian barat Kota Batu. Faktanya memang ini tidak terjadi di aliran sungai Brantas tapi di anak sungai. Saat masuk ke ruas sungai masuk batu, kayu karena erosi yang luar biasa. Maka luas sungai itu kemudian dilewati pasir batu tanah dan kayu tentu saja mengambil sisi kanan kiri penampang sungai yang dulunya terbuka, kini ada pemukiman,” ujar Direktur Utama Jasa Tirta I Raymond Valiant, Senin, (8/11/2021).

Dugaan awal banjir bandang berawal dari anak Sungai Brantas yakni Kali Sambong di Dusun Sambong, Desa Bulukerto, Kota Batu. Sebelum banjir bandang lebar sungai tak lebih dari 10 meter. Setelah terjangan banjir bandang melebar menjadi 40 hingga 50 meter.

“Kalau anak sungai yang menjadi lokasi dari bencana ini sebenarnya penampangnya relatif kecil, tapi setelah dilewati batu, pasir dan kayu melebar menjadi 40 hingga 50 meter. Saya kira pasir batu tanah kayu itu mencari jalan jalan untuk mengalir ini karena daerah hulunya saya kira sudah terbuka tidak ada tutupan lahan lagi. Langsung menyebabkan tanah itu tererosi bersama aliran air,” papar Raymond.

Adapun, kerusakan insfrastuktur di DAS Brantas sesuai laporan antara lain tiang jembatan di Sengkaling, Kecamatan Dau yang dioperasikan Dinas PUPR Jatim dan pipa transmisi PDAM Kota Malang yang putus diterjang banjir bandang ini. PJT I selaku otoritas DAS Brantas untuk menelusuri penyebab banjir.

“Di Kali Sambong itu sedang kami teliti ke hulunya, memang ada bagian hutan lindung yang mengalami alih fungsi jadi perkebunan. Kuat dugaan memang terjadi longsor dan ada limpasan air yang membawa tanah dari kawasan terbuka. Rekomendasi kami agar tak terjadi longsoran, perlu ada perbaikan sistem dan pemulihan fungsi hutan,” tandas Raymond. (luc/kun)

 

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar