Banyuwangi (beritajatim.com) – Kemacetan parah yang terjadi di Banyuwangi menyisakan kepedihan bagi sejumlah pengguna jalan, khususnya para sopir truk. Mereka terpaksa menghabiskan sepanjang waktu di jalan tanpa bisa berbuat banyak.
Waktu demi waktu hanya mampu dijalani dengan menunggu antrean untuk sekadar menginjak tuas gas mobil seraya maju ke depan. Pandangannya pun terbatas hanya bagian belakang mobil di depannya yang tampak seperti ular tak berujung.
Kondisi seperti ini mulai dirasakan kala masuk perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Tepat di penghujung beberapa desa sebelah selatan, Kecamatan Wongsorejo mulai kerapatan kendaraan terlihat. Dari utara Desa Alasbuluh, Desa Bengkak dan Desa Bangsring.
Ada truk berhenti pelan. Satu menyusul di belakang pelan. Lama-lama menumpuk karena kendaraan di depan sudah tak bisa bergerak.
Ya, kemacetan parah ini memang paling banyak dari arah utara Surabaya ke Banyuwangi. Khususnya bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali.
“Saya sudah di sini sejak selesai subuh,” kata Supardi kernet truk asal Kota Malang yang membawa muatan makanan ternak, Kamis (6/6/2023).
Sejak saat itu, ekor kendaraan paling belakang berada di perbatasan Desa Bangsring dan Bengkak. Sempat merangkak mencari celah tapi kemudian berhenti lama.
“Ada yang lowong saya minta sopir maju ke depan, tapi setelah sekitar jam 6, kendaraan mentok mobil depan gak bisa keluar,” katanya.
Setelah menunggu lama, akhirnya sekitar Pukul 9.15 WIB kendaraan dapat bergerak cukup jauh. Tapi, kemacetan masih belum terurai.
“Lumayan udah bisa jalan, saya pikir sudah bisa terurai. Tapi ternyata masih panjang. Jalan sekitar 500 meteran,” ungkapnya.
BACA JUGA:
ASDP Ketapang-Gilimanuk Operasikan 35 Kapal Mudik 2023
Sementara itu, Made sopir truk lainnya mengaku cukup putus asa menunggu antrean yang panjang. Namun sesekali dia tersenyum saat ada mobil pribadi atau bus yang maksa masuk ke depan.
“Ya, biarin sudah biar tambah macet. Sekalian nggak pulang,” selorohnya sambil tertawa.
Benar saja, saat di lokasi memang kerap terjadi adanya kendaraan yang tidak sabar masuk ke depan. Sehingga hal itu menyebabkan kemacetan makin parah.
“Ya beginilah risiko saat di jalan mau apa lagi. Diterima saja, habis-habis dah uang sakunya,” katanya.
Made saat itu membawa truk fuso membawa muatan pakan ayam. Rencananya, muatan tersebut akan dibawa di salah satu peternakan di Denpasar.
“Nggak tau sampai kapan, hari ini ayam kelaparan bisa mati. Mau gimana lagi,” katanya.
Selang 13 jam kemudian, truk asal Malang yang dikerneti oleh Supardi memberikan info. Truknya sudah masuk ke dalam kapal di Pelabuhan PT Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Kecamatan Kalipuro.
“Tadi selepas maghrib baru bisa masuk ke kapal, sekarang mau bongkar muatan malah hujan,” jawab Hadi setelah sampai di Denpasar.
Kemacetan panjang bak benang kusut ini memang disebabkan beberapa permasalahan. Pertama, cuaca buruk, kedua animo calon penumpang yang membludak dan ketiga adanya perbaikan dermaga.
Jika melihat kondisi saat ini, memang informasi dari Stasiun BMKG Meteorologi Klas III Banyuwangi, prakiraan cuaca di Selat Bali khususnya kurang bersahabat. Yakni adanya potensi gelombang tinggi yang menjadi bentuk kewaspadaan bagi para warga yang beraktivitas di Selat Bali, khususnya kapal penyeberangan.
Hal itu yang menyebabkan beberapa kali mengganggu lalu lintas penyeberangan. Sehingga menyebabkan penumpukan kendaraan menjelang pelabuhan.
BACA JUGA:
PT ASDP Ketapang Larang Penjualan Tiket di Sepanjang Pintu Masuk Pelabuhan
Sementara itu, kondisi makin parah lantaran animo masyarakat yang menuju ke Pulau Bali cukup tinggi. Hal ini tak dapat dipungkiri, bahkan menjadi pemandangan biasa apalagi bersamaan dengan liburan panjang Idul Adha dan libur sekolah.
Terakhir, sebab lain adanya perbaikan dermaga di dua sisi pelabuhan, baik di Ketapang, Banyuwangi maupun di sisi Gilimanuk, Jembrana, Bali. Satu dermaga Phonton di dua sisi memang cukup menyita perhatian. Pasalnya secara langsung berdampak mengurangi jumlah kendaraan yang akan menyeberang ke Pulau Bali dan sebaliknya. [rin/but]






