Peristiwa

Monumen Kapal Van Der Wijck, Tanda Terima Kasih Belanda untuk Nelayan Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Kapal legendaris yang bernama Van Der Wijck telah tenggelam di perairan pantura, pada tahun 1936. Kapal Van der Wijk adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) saat ini.

Peristiwa tersebut diabadikan dengan dibangunnya monumen tanda peringatan kapal Van Der Wijck, di kawasan Pelabuhan Nusantara Brondong Lamongan. Itu sebagai bentuk rasa terima kasih kepada para nelayan setempat yang telah menolong korban kecelakaan Kapal Van Der Wijck.

Monumen terdiri dari 3 lantai, sementara di lantai 2 terdapat balkon yang menghadap ke arah laut (utara). Berukuran sekitar 2,5 meter x 3 meter dengan tinggi 10 meter. Dua buah plakat tertempel di kedua sisi monumen, dengan tulisan dalam bahasa Belanda dan Indonesia ejaan lama.

Plakat dalam bahasa Indonesia terletak di sisi barat (dari arah laut), bertuliskan “Tanda Peringatan kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck DDC 19-20 Oktober 1936.”

Sementara plakat berbahasa Belanda berada di baliknya (Timur), yang bertuliskan “Martinus Jacobus Uytererk Radiotelegrafist Aan Boord S.S Van Der Wijck 20 Oktober 1936 Hij Bleef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zij EERE. Zijne Vrienden.”

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, angkat bicara terkait monumen itu. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum tahu kisah kapal tersebut. Sebagian malah menganggap ini fiktif. Tahunya hanya sebatas judul novel yang dikarang oleh Buya Hamka. Padahal, menurut Wicaksono, ini bisa dibuktikan dan banyak nilai yang bisa diserap dari monumen tersebut.

“Tahun 1936, kapal Van Der Wijck mengalami kecelakaan, justru nelayan kita lah yang menolongnya. Di sini dijadikan sebagai tempat evakuasi korban kapal. Kebetulan saksi yang melihat proses evakuasi tenggelamnya kapal baru meninggal setahun lalu,” ujarnya, Jumat (30/04/2021) sore.

Pada waktu itu, nelayan Brondong menolong dan tergerak atas nama kemanusiaan. Hal ini menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, meski dalam kondisi penjajahan kolonial atau perang, nelayan Brondong masih sempat melakukan pertolongan.

“Itu kan kondisi perang, sebelum kemerdekaan. Mereka sempat-sempatnya menolong kapal tenggelam yang ditumpangi mayoritas orang Belanda. Kan ini yang luar biasa, itulah cerminan bangsa kita,” lanjutnya.

Wicaksono menceritakan, ia bersama tim dan nelayan akan berusaha maksimal dalam melakukan eksplorasi, dan mengais sebanyak mungkin nilai sejarah dari bangkai kapal Van Der Wijck. “Mbahnya yang menolong korban, anak cucu mereka yang kembali mencari kapal,” cerita Wicaksono

Di akhir ceritanya, ia juga menyayangkan terkait kondisi monumen yang kurang terawat. Hingga membuat monumen tanda peringatan itu seolah terasing dalam riuh aktivitas tangkap ikan dan ramainya jalan raya Daendels.

“Jangankan monumen, mas. Gedungnya aja banyak yang kumuh. Tapi mari kita gunakan momentum eksplorasi ini untuk merevitalisasi semua,” pungkasnya.

Sementara, berdasarkan pantauan dari beritajatim.com di lokasi, monumen tanda peringatan itu tampak masih seperti monumen biasa pada umumnya. Tidak ada plang atau papan nama yang menunjukkan tulisan “Monumen Van Der Wijck”.

Bahkan monumen itu kurang terlihat rapi dari jalan umum, karena tertutupi oleh lebatnya pohon dan rerumputan di sekitarnya. Selain itu, kondisi cat temboknya banyak yang terkelupas, pintu untuk masuk ke dalam monumen sudah rusak dan lepas, hingga disandarkan tak terawat di tembok. [riq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar