Peristiwa

22 Tahun Gerakan Reformasi di Jombang (2-Habis)

Menyemai Bibit Perlawanan di Kampus Hijau

Demonstrasi ribuan massa yang digelar mahasiswa Undar pada era 1990-an

Jombang (beritajatim.com) – Reformasi 98 seolah menjadi gong penutup dari perjalanan panjang gerakan mahasiswa di masa orde baru. Pondasi untuk mencapai titik puncak tersebut mulai ditata sedemikian rupa pada era 1990-an. Pada era itu pula, bibit-bibit perlawanan mulai disemai, dipupuk, disiram, hingga tumbuh bermekaran.

Bersemi Lewat Seni Kopi

Kalender menunjukkan bulan Juni 1990. Undar sedang berada di puncak kejayaan. Mahasiswanya mencapai ribuan. Mereka datang dari berbagai pelosok nusantara. Kondisi itu semakin klop dengan suasana hampus yang sangat asri. Pohon-pohon besar tumbuh menghijau di lingkungan kampus.

Hari itu, 24 Juni 1990. Halaman kampus Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang disulap menjadi panggung puisi. Puluhan mahasiswa berambut gondrong, bercelana jins kumal, sedang berkumpul di halaman tersebut. Denting suara gitar memecah suasana. Suaran gamelan berneda etnis terdengar susul menyusul dengan lantunan puisi yang dibaca tanpa henti.

Acara pembacaan puisi itu tidak hanya memakan waktu tiga, empat, lima atau empat jam. Namun dilakukan secara estafet hingga 24 jam. Bait-bait puisi dibaca secara bergantian. Mengalir dari mahasiswa satu ke mahasiswa lainnya.

Itulah acara pembacaan puisi 24 jam yang digelar ‘Seni Kopi Paku Tanah Jawa (SKPTJ)’. Sebuah acara di luar kelaziman di masa itu. Gelaran puisi 24 jam tersebut pertama kalinya di Indonesia, hingga kemudian tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia). Mahasiswa yang ikut dalam kegiatan itu di antaranya Syamsunar, Tarnoto Kicas, Inal Rochmatulloh, Hanafi alias Pipo, serta sejumlah mahasiswa lainnya.

“Mahasiswa dari semua fakultas berkumpul di halaman depan Undar. Acarnya tanggal 24-26 Juni 1990. Puisi keagamaan hingga puisi perlawanan seperti karya penyair WS Rendra ditampilkan. Sejak itu SKPTJ kerap mendapat undangan pementasan musik dan puisi ke kota-kota lain,” ujar Tarnoto, mahasiswa Fisipol angkatan 1988, Kamis (21/5/2020).

Mahasiswa Undar yang tergabung dalam Seni Kopi Paku Tanah Jawa sedang melakukan pementasan pada 1990. [Foto/koleksi Inal Rochmatulloh]
Aktivis yang ikut mendirikan SKPTJ adalah Syamsunar dari fakultas hukum. Pria yang kini bermukim di Parung, Bogor ini mengungkapkan, pada tahun-tahun itu, orde baru sedang kuat-kuatnya. Kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) yang diterbitkan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daud Jusuf benar-benar membuat mahasiswa tiarap.

Kampus disterilkan dari kegiatan politik. Mahasiswa hanya disibukkan dengan kuliah. Praktis, sejak itu gerakan mahasiswa dalam kondisi mati suri. Di kota-kota besar, mahasiswa meleburkan diri dalam kelompok studi dan pers kampus.

“Sebelum terbentuknya SKPTJ, pada awal 1990, mahasiswa mulai mengkritisi kebijakan kampus. Hanya lingkup internal. Isu-isu yang diangkat pun juga seputar kampus Undar. Aksi itu dikenal dengan Trituma (Tiga Tuntutan Mahasiswa),” ujarnya.

Demo mahasiswa Undar Jombang pada 21 Mei 1998

Seiring laju waktu, sekelompok mahasiswa yang ada di SKPTJ akhir memilih jalan pedang. Kesadaran sosial mereka muncul. Mereka mulai melakukan advokasi permasalahan-permasalahan yang membelit rakyat. Kemudian pada 1991, aksi turun jalan dilakukan dengan tuntutan pembubaran SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah).

Nah, dalam aksi ini mahasiswa mulai keluar kampus. Aksi di Jombang saat itu, menurut Syam, juga diikuti santri dari empat pesantren besar di Jombang. Jumlah massa aksi mencapai ribuan. Dari situ kiprah mahasiswa meluas. Jaringan mahasiswa antar kota juga mulai terbangun. Para aktivis tersebut kemudian membentuk Forum Mahasiswa Jombang (Formajo).

“Pada 1992 kita melakukan advokasi. Mendampingi pedagang yang dirugikan dalam pembangunan Pasar Legi Jombang. Setelah itu, kita melakukan advokasi petani di Sampang Madura yang menjadi korban pembangunan Waduk Nipah. Dan pada 1993 advokasi kasus pembunuhan buruh, Marsinah. Dari situlah jaringan aktivis antar kota terbangun,” kata Syamsunar.

21 Mahasiswa Dipenjara

Sebanyak 21 mahasiswa dijebloskan dalam rutan Salemba pada 1993. Lima diantaranya berasal dari Jombang

Selain melakukan aksi-aksi di daerah. Para aktivis Jombang juga melakukan demonstrasi yang cukup berani, yakni ke jantung kekuasaan di Jakarta. Bersama aktivis dari kota lain (Surabaya, Malang, Yogyakarta, Bogor, Jakarta) mereka membentuk FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia). Selanjutnya, pada 14 Desember 1993, FAMI menggelar demonstrasi di depan gedung DPR RI dengan tuntutan ‘Seret Soeharto ke Sidang Istimewa’.

Aksi mereka dibubarkan aparat. Sebanyak 21 mahasiswa ditangkap. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya berasal dari Undar Jombang. Mereka adalah Piryadi Kartodiharjo, Munasir Huda, M Rifqi, Suwito Pay, serta Adi Kurniawan. Isu yang diusung di antaranya kasus Nipah, kasus Marsinah, serta kasus-kasus rakyat lainnya yang dipicu oleh kekerasan orde baru.

“Berita penangkapan 21 mahasiswa itu menghiasi seluruh surat kabar nasional. Dari Undar ada lima mahasiswa yang tertangkap. Kami dipenjara di Rutan Salemba,” ujar Piryadi, mengenang peristiwa yang menjadikan dirinya sebagai tapol (tahanan politik).

Tragedi Magrib Berdarah
Dua tahun setelah peristiwa penangkapan 21 mahasiswa, aktivis di Jombang kembali melakukan demonstrasi besar-besaran yang berawal dari kasus perburuhan. Yakni, adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap buruh CV Maska Perkasa.

Saat itu, September 1995, ribuah buruh CV Maska berdemonstrasi ke kantor Depnaker Jombang di Jl Anggrek. Nah, tepat saat kumandang magrib terdengar, apara bersenjata lengkap membubarkan aksi tersebut. Buruh digebuk hingga kocar-kacir. Bahkan tidak jarang dari mereka mengalami luka-luka. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan ‘Tragedi Magrib Berdarah’.

Peristiwa kekerasan tersebut memantik solidaritas dari kalangan mahasiswa. Mereka kemudian membentuk KSBM (Komite Solidaritas Buruh Maska) yang diketuai Syamsunar. Keesokan harinya mahasiswa menggelar aksi di gedung DPRD setempat. Mereka menuntut Bupati Jombang Soewoto Adi Wibowo mundur dari jabatannya.

Dari aksi tersebut, tiga mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Misbahul Zakaria (fakultas pertanian), Syamsunar (fakultas hukum) dan M Romli (fakultas hukum). Ketiganya diseret ke meja hijau. Persidangan tiga mahasiswa itu berjalan cukup lama, memakan waktu satu tahun lebih.

Sejumlah pengacara kondang turun ke Jombang untuk mendampingi tiga aktivis itu. Di antaranya, Adnan Buyung Nasution, Artijo Alkosar, Munir, Bambang Widjajanto, dan sederet pengacara kondang lainnya. Para lawyer tersebut mendampingi tiga aktivis Jombang yang sedang dijerat pasal karet. Hingga 1997, persidangan masih berlangsung.

“Dengan sederet peristiwa di atas, terjadinya reformasi 1998 tidak lepas dari jalan panjang yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya, yakni aktivis era 1990-an. Mereka membangun pondasi untuk melawan tirani. Puncaknya, meletuslah reformasi 98 yang ditandai runtuhnya orde baru,” kata Misbahul Zakaria, salah satu mahasiswa yang ditetapkan sebagai tersangka dalam demonstrasi solidaritas untuk buruh Maska. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar