Blitar (beritajatim.com) – Farida Masrurin masih menyimpan rapi pedang yang digunakan oleh ayahnya Hasim As’ari untuk menumpas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di wilayah Blitar Selatan pada tahun 1968 silam. Pedang yang konon digunakan untuk menebas anggota PKI tersebut, memiliki panjang sekitar 60 centimeter dan lebar sekitar 4 centimeter.
Dari cerita yang diperoleh Farida, pedang tersebut digunakan oleh Hasim As’ari saat ikut menumpas anggota PKI pada operasi militer Trisula di beberapa wilayah Blitar seperti Bakung, Sutojayan hingga Wonotirto. Hasim As’ari sendiri merupakan eksekutor atau algojo PKI.
Hasim muda merupakan aktivis Ansor, organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Kekacauan kondisi keamanan dan adanya pecah belah pada waktu itu, membuat Hasim yang tidak tahu menahu ikut terseret dalam penumpasan sisa-sisa anggota PKI yang dituduh ikut terlibat dalam peristiwa 30 September.
“Ceritanya dulu pedang ini digunakan bapak untuk mengeksekusi anggota PKI yang ada di wilayah Blitar Selatan,” kata Farida Masrurin, Senin (11/9/2023).
Kondisi wilayah Blitar Selatan sendiri pada 1968 silam, memang mengalami kekacauan. Sejumlah orang yang dituduh sebagai anggota PKI langsung diburu militer.
BACA JUGA:
Kabupaten Blitar Berhasil Kawinkan Medali Emas di Nomor Doubel Event Sepak Takraw
Bukan hanya itu, sejumlah aktivis keagamaan ikut terlibat dalam penumpasan orang-orang yang dituduh PKI ini. Dari ratusan anggota tersebut, Hasim As’ari merupakan salah satu yang bertugas untuk mengeksekusi setiap orang yang dituduh anggota PKI dan telah tertangkap.
“Waktu itu masih muda bapak, dan memang kan waktu itu kacau tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, bapak itu juga tidak tahu tapi dibelenggu oleh keadaan,” ungkapnya.
Hasim As’ari kini telah wafat namun pedang yang digunakannya untuk menumpas orang yang diduga PKI masih ada. Meski telah berkarat, pedang tersebut masih disimpan oleh sang anak perempuan di rumahnya Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.
Farida sendiri tidak menyimpan pedang itu secara khusus. Ia yang saat ini sedang menjalankan program rekonsiliasi G30S PKI tersebut sengaja tidak merawat secara khusus pedang yang ditinggalkan oleh sang ayah.
Baginya, pedang tersebut cukup menjadi kisah kelam yang membuat Bangsa Indonesia terpecah belah. Kini ibu satu anak tersebut tengah menjalankan misi untuk rekonsiliasi dan meminta maaf kepada keturunan yang sudah menjadi korban ayahnya.
BACA JUGA:
Lahan Perhutani di Blitar Terbakar atau Dibakar?
“Memang masih ada tadi tidak saya rawat khusus, bagi saya itu sejarah kelam, di awal rekonsiliasi memang tidak mudah ya ketika datang ke mereka karena saya adalah generasi NU yang dipandang waktu itu sebagai pelaku, padahal kalau ditelisik kita semua adalah korban dari keadaan dan terbelenggu dari keadaan, maka dari itu yang terpenting saat ini adalah saling memaafkan di antara keturunannya, agar tidak muncul rasa benci dan dendam,” tutupnya.
Farida sendiri merupakan anak perempuan dari Hasim As’ari dan Uli Wafiah. Farida tumbuh dan besar dengan stigma anak seorang algojo PKI. Cerita kelam sang ayah membuat hati Farida tergerak untuk mendatangi satu persatu korban sang ayah.
Kedatangan Farida tersebut tidak lain hanyalah untuk meminta maaf kepada para korban dan anak keturunannya atas apa yang dilakukan oleh sang ayah Hasim As’ari. Apa yang dilakukan oleh Farida ini hanya satu tujuan yakni menghapus dendam dan benci atas peristiwa masa lalu di tahun 1968. [owi/beq]






