Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Kisah Empu Supo, Pembuat Keris yang Dikagumi Sunan Kalijaga

Tuban (beritajatim.com) – Warga sekitar Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, mendadak gempar dengan ditemukannya dua orang yakni Marsih (66) dan Mariyanto (45), ibu dan anak yang meninggal di lokasi petilasan Pengapen Empu Supo.

Informasinya, ibu dan anak tersebut sedang menjalani ritual di petilasan Pengapen Empu Supo. Selama ini, Petilasan Empu Supo memang dikenal oleh warga sebagai tempat yang dikeramatkan dan sering dijadikan tempat ritual. Diduga korban tewas karena keracunan gas belerang yang sangat menyengat keluar dari area seperti sumber air atau kolam sumur.

Lalu, kenapa keduanya nekat menjalani ritual di lokasi yang dinilai berbahaya tersebut? Lalu siapa Mpu Supo?

Perlu diketahui, Desa Dermawuharjo sangat terkenal dengan kekayaan alamnya berupa sumber air panas belerang. Saat memasuki desa ini, aroma belerang tercium menyengat.

Dulu, sumber air belerang digunakan para pembuat keris untuk marangi alias mencuci bilah keris yang sudah ditempa. Sementara sampai saat ini, keris dapur Tuban menjadi salah satu keris yang diakui sebagai khazanah pusaka nusantara.

Dan salah satu pembuat keris atau empu yang terkenal adalah Empu Supo Madrangi alias Raden Joko Supo. Bahkan, Empu Supo merupakan empu yang paling dikagumi Sunan Kalijaga.

Adikarya Empu Supo yang terkenal, ialah keris Sengkelat yang artinya simbol rakyat. Keris itu mampu mengalahkan keris Condong Campur milik Prabu Brawijaya V. Selain itu, beberapa karyanya yang melegenda adalah Keris Kiai Umyang, Keris Kiai Tapak, Kiai Nagasasra, dan Kiai Carubuk.

Raden Joko Supo sendiri, adalah putra Pangeran Sedayu yang juga dikenal memiliki keahlian membuat keris. Raden Joko Supo mewarisi kemampuan ayahnya yang dikenal sebagai empu hebat dari kerajaan Majapahit yang hidup di sekitar abad ke 15.

Raden Joko Supo sebelumnya beragama Hindu dan setelah bertemu serta berdialog dengan Sunan Kalijaga, kemudian memeluk Islam. Dia pun menikah dengan adik Sunan Kalijaga, yaitu Dewi Rasawulan. Dikisahkan, Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu Sunan Kalijaga memberikan besi sebesar biji asam Jawa kepada Raden Joko Supo.

Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supo agak terkejut karena bobotnya yang berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya. Dia tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris. Namun Sunan Kalijaga meyakinkan, besi itu sebenarnya tidak hanya sebesar biji asam Jawa tetapi besarnya seperti gunung.

Setelah jadi keris dan diserahkan, Sunan Kalijaga kaget sekaligus kagum karena hasilnya yang melebihi perkiraanya. Semula, dia hanya ingin dibuatkan pegangan lebai (orang yang menyembelih kurban), ternyata yang dihasilkan keris yang indah.

Keris dengan luk tiga belas berwarna kemerahan itu diberi nama Kiai Sengkelat (artinya bersemu merah). Lalu Empu Supo diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati).

Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Sunan Kalijaga sangat senang dan dinamakan Kiai Carubuk.

Pada suatu hari Sunan Kalijaga hendak pergi ke Cirebon untuk menemui Sunan Gunung Jati, ditemani Raden Joko Supo, Ki Ageng Malang Gati, Syeh Nur Samsudin, dan Ki Ageng Bantar Bolang. Termasuk beberapa orang santri dan prajurit dari Demak.

Saat Sunan Kalijaga melakukan salat malam dan bermunajat pada Sang Khalik, di bekas tapak kakinya ditemukan besi pamor sebesar buah sawo. Kemudian besi tersebut diserahkan pada Raden Joko Supo untuk dibuat menjadi sebuah keris.

Setelah selesai, keris tersebut diserahkan pada Sunan Kalijaga dan diberi nama keris Kiai Tapak. Keris liuk 13 tersebut oleh Sunan Kalijaga diserahkan kepada Kiai Ageng Malang Gati.

Satu keris karya Raden Joko Supo yang legendaris adalah keris Kiai Umyang. Nama keris itu diambil dari nama Dusun Sumyangjimpe, tempat Raden Joko Supo menyepi karena tak ingin terlibat dalam konflik antara Ratu Kalinyamat dengan Adipati Jipang Panolan, Aryo Penangsang.

Keris tersebut mempunyai ornamen pada bagian gandhik kanan kiri yang dikenal sebagai Dhapur Puthut, baik tanpa luk maupun yang berluk.

Saat perseteruan politik di Demak berakhir dan takhta jatuh kepada Joko Tingkir menantu Sultan Trenggono (Putera Raden Patah), Raden Joko Supo diperintahkan Sunan Kalijaga mengabdi ke Pajang dengan membawa bukti keris buatannya.

Raden Joko Supo ke Pajang untuk mengabdi dan menyerahkan bukti sebilah pusaka. Saat itu Sultan Hadi Wijoyo sedang memeriksa seorang tersangka dan terpidana. Dengan wasilah pusaka keris Sumyang jimpe yang dibawa Empu Djoko Supo, tersangka tersebut ngomyang (bicara tanpa kendali) dan kasus tersebut selesai karena pengakuan dari tersangka sendiri.

Niat Raden Joko Supo untuk mengabdi diterima oleh Sultan Hadi Wijoyo. Bahkan dia dan keris pusaka miliknya diberi gelar nama yang sama, yaitu Keris Kiai Umyang dan Empu Kiai Umyang. [kun]

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar