Pasuruan (beritajatim.com) – Kepala pengelola pasar wisata Cheng Hoo Pasuruan, Wahyu Wibowo menjadi pihak yang dikorbankan. Hal ini disebabkan konflik antar pedagang wisata Cheng Hoo yang sampai saat ini belum juga mereda.
Wahyu dimutasi ke bagian staf di Kecamatan Kejayan. Padahal saat menjabat sebagai pengelola pasar wisata, dia bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Diketahui pada 2022 ini, Pasar Wisata Cheng Hoo menghasilkan pendapata melebihi target PAD Rp1,36 milyar.
“Staf yang berprestasi harus diberikan reward dan dipertahankan. Semestinya Kepala Disperindag yang harus dicopot, karena tidak mampu menyelesaikan persoalan pedagang,” kata LBH Pijar, Lujeng Sudarto, Senin (19/12/2022).
Diketahui pada pekan kemarin para pedagang di bawah naungan paguyuban telah mengadu kepada Ketua DPRD dan Bupati Pasuruan. Mereka memprotes keberadaan stan PKL yang disebut mendapat fasilitas dari Kepala Pengelola Pasar.
Stan PKL yang berada dekat kawasan parkir kendaraan wisatawan dianggap mengurangi pendapatan pedagang yang berlokasi jauh dari tempat parkir. Belakangan terkuak motif protes tersebut untuk mendepak kepala pengelola pasar.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Pasuruan”]
Para pedagang juga sangat menyayangkan hal ini. Karena sebelum adanya kepala pengelola pasar, para pedagang kaki lima tidak dipungut biaya mahal namun saat mereka merasa risau jika pengelola pasar dipindahkan.
“Mulai 2017 lalu iurannya Rp75 ribu per bulan dan itu kami tidak tahu uangnya masuk ke mana. Lah kalau ada pengelola pasar kan kami cuma ditarik Rp2.000 per hari dan jika tidak jualan kami juga tidak dipungut, itupun masuk langsung ke PAD,” kata Busori salah seorang PKL Cheng Hoo.
Busori juga risau jika tidak ada kepala pengelola pasar dan dikelola kembali oleh paguyuban nanti iuran yang dipungut kembali besar. Tak hanya itu dirinya juga takut jika tidak diperbolehkan lagi berjualan di area pasar wisata Cheng Hoo. [ada/beq]






