Bojonegoro (beritajatim.com) – Jembatan Kaliketek yang bersejarah dan menjadi saksi bisu perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah di Bojonegoro mulai retak. Retakan terjadi pada bagian plengsengan dan penghubung ke jalan raya.
Retaknya plengsengan jembatan di jalur nasional yang menghubungkan Kabupaten Tuban dengan Kabupaten Bojonegoro itu ramai dibicarakan di media sosial. Seperti unggahan video di media sosial Facebook hingga mendapat ratusan komentar.
Retaknya plengsengan jembatan itu diketahui sudah lama, saat ini kondisinya semakin parah. Keretakan terjadi merata di sisi kanan dan kiri jembatan sebelah selatan. Bahkan penyambung antara jembatan dengan jalan raya juga turut retak.
Keretakan terjadi cukup lebar dan diperkirakan hingga tembus ke dalam. Di bagian plengsengan jembatan retak antara 10 hingga 20 centimeter. Sedangkan penyambung antara jembatan dengan jalan raya kerenggangan sekitar 3 centimeter.
BACA JUGA:
Mobil Dinas Pemkab Bojonegoro Seruduk Rumah Warga
“Jalur provinsi, semoga segera ditanggapi dan ditangani jangan menunggu korban,” komentar salah satu warganet, MB*** menanggapi postingan video yang memperlihatkan keretakan jembatan kaliketek, Senin (11/9/2023).
Jembatan Kaliketek sendiri menyimpan sejarah tentang perjuangan para pahlawan melawan kolonialisme di Bojonegoro. Jembatan peninggalan Belanda itu merupakan akses mobilisasi hasil kekayaan alam dengan menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa.
BACA JUGA:
Dugaan Korupsi BPR Bojonegoro, Kerugian Negara Masih Dihitung
Salah seorang pemerhati sejarah Kabupaten Bojonegoro, Djoni Susanto mengungkapkan, pembangunan jembatan Kaliketek yang berada di Kelurahan Banjarejo (sisi selatan) dan Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk (sisi utara) itu sendiri diperkirakan memakan waktu hingga tiga tahun dari 1916 sampai 1919.
Nama jembatan itu diambil dari nama sungai di sebelah timur jembatan yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. [lus/beq]






