Jember (beritajatim.com) – Perguruan tinggi di Australia lebih memikat para dosen Universitas Jember untuk menjadi tempat menempuh pendidikan pascasarjana. Ini karena kualitas pendidikan di Australia cukup baik, juga jarak dari Indonesia cukup dekat.
“Setahu saya ada 50 atau bahkan lebih, dosen Universitas Jember yang lulusan Australia. Australia hingga saat ini dipilih menjadi lokasi studi karena kualitas dan jaraknya relatif dekat dengan Indonesia,” kata Rektor Universitas Jember Iwan Taruna saat menerima kunjungan Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Fiona Hoggart, Senin (7/11/2022), sebagaimana dilansir Humas Unej.
Universitas Jember juga sudah lama bekerja sama dengan Pemerintah Australia. Menurut Iwan, selain menjadi lokasi studi, banyak kerjasama penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan.
Projek terbaru adalah program pencegahan pernikahan dini di Kabupaten Bondowoso. Projek ini dijalankan para dosen Universitas Jember alumni Australia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”unej-jember”]
“Salah satu bentuk kerja sama yang bisa diagendakan dalam waktu dekat adalah program double degree antara Pascasarjana Universitas Jember dengan perguruan tinggi di Australia, dan tentu saja kerja sama penelitian serta pengabdian kepada masyarakat yang sudah berjalan. Termasuk pelaksanaan program KKN Universitas Jember Membangun Desa yang juga didukung pemerintah Australia,” kata Iwan.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Yuli Witono tertarik dengan pemanfaatan lahan gurun menjadi lahan produktif. Dia menjajaki kemungkinan kerjasama pengiriman dosen Universitas Jember mengajar bahasa dan budaya Indonesia di Australia.
Menanggapi hal ini, Fiona Hoggart berjanji akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk mencoba mengagendakan pertemuan antara Universitas Jember dengan Atase Pendidikan kedubes Australia dan perwakilan perguruan tinggi Australia, terutama yang sudah membuka kampus di Indonesia. [wir/beq]






