Banyuwangi (beritajatim.com) – Warga Banyuwangi menyelenggarakan HUT RI ke-80 dengan cara unik, salah satunya menggelar upacara di dermaga beton apung di Pelabuhan Marina Boom.
Upacara dimulai pukul 07.00 WIB. Empat petugas pengibar melaksanakan prosesi tersebut di atas dermaga apung dengan tiang bendera terpasang kokoh.
Cara menarik tersebut dilakukan bertujuan mengenang kembali sejarah yang terjadi di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut pada masa lampau. Yang mana dulunya merupakan lokasi dari bagian Pertempuran Selat Bali yang terjadi pada 5 April 1946.
Pertempuran tersebut melibatkan pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) melawan pasukan Belanda dan berakhir dengan kemenangan bagi pihak Indonesia.
“Bagi saya, pengalaman ini sungguh istimewa,” kata inspektur upacara Sersan Mayor Sunoto, Minggu (17/8/2025).
Pengibaran bendera di dermaga apung yang baru pertama kali dilaksanakan di Banyuwangi disebutnya merupakan pengalaman baru yang luar biasa karena dari sana ia bisa melihat pemandangan sekeliling yang menyajikan perpaduan keindahan laut dan gunung.
Sunoto berharap upacara tersebut bisa menginspirasi para generasi muda untuk cinta Indonesia sekaligus cinta akan bahari.
Ia juga mengaku salut karena ternyata ada karya dari putra Banyuwangi berupa beton apung yang bisa dipakai untuk kegiatan istimewa dalam rangka memperingati kemerdekaan dan mengingat perjuangan para pahlawan.
Penggagas upacara bendera di atas dermaga ponton apung sekaligus pemilik dermaga apung, Menlu mengatakan, proses pengibaran bendera digelar seperti pada umumnya.
“Mulai dari persiapan hingga pengibaran Sang Merah Putih. Bedanya, kali ini dilakukan di atas dermaga beton terapung,” ujarnya.
Upacara di dermaga yang mengambang di atas laut pun bukan tanpa alasan, melainkan karena wilayah daratan Indonesia hanya sekitar 30 persen sementara lautannya mencapai hampir 70 persen.
“Maka perayaan kemerdekaan Indonesia yang utuh juga disebutnya bukan hanya di darat, tetapi juga di laut,” tuturnya.
Pihaknya berharap, upacara tersebut bisa menginspirasi. Termasuk mengingatkan kembali akan peran para pahlawan bangsa di lautan untuk menjaga keamanan republik.
Sementara itu, dermaga beton apung yang dipakai untuk upacara memiliki ukuran 4 meter x 20 meter. Pada prinsipnya, segala hal yang bisa dilakukan di darat juga bisa dilakukan di atas dermaga apung.
“Misalnya untuk mendirikan rumah, restoran terapung, hingga fungsi utama sebagai tempat sandar kapal,” urainya.
Ia menjelaskan, dermaga beton terapung sebenarnya sudah banyak dimanfaatkan di negara lain. Di Indonesia, keberadaannya sangat strategis karena memiliki ribuan pulau yang sulit dijangkau. Dermaga terapung bisa menjadi salah satu solusi.
“Selain efisien secara biaya, juga mampu menjangkau hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia,” tutur dia.
Secara spesifikasi, dermaga apung tersebut memiliki kamampuan angkut sekitar 40 ton.
“Tadi saat upacara, hanya digunakan sekitar 30 orang dengan berat rata-rata 80 kg. Jadi totalnya hanya 3,2 ton. Artinya, masih jauh di bawah kapasitas maksimal,” jelasnya. [alr/aje]






