Pasuruan (beritajatim.com) – Ikon wisata Kota Pasuruan berupa payung madinah di kawasan Alun-Alun kembali menjadi perhatian pemerintah setempat. Pemeliharaan 12 unit payung hidrolis ini tahun 2025 memerlukan biaya besar agar tetap berfungsi optimal.
Masyarakat Kota Pasuruan sudah menjadikan payung madinah sebagai daya tarik wisata dan ruang publik. Karena itu, perawatan rutin menjadi hal yang tidak bisa diabaikan oleh pemerintah daerah.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan, Budi Santoso, menyebut pemeliharaan dilakukan agar fasilitas publik tidak cepat rusak. “Payung madinah ini adalah ikon kota, sehingga harus dijaga dengan baik,” ujarnya.
Awalnya, pemerintah menganggarkan Rp30 juta untuk tiap unit payung sehingga totalnya mencapai Rp360 juta. Namun, kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat memangkas jumlah anggaran hingga separuh.
“Karena ada Instruksi Presiden tentang efisiensi, maka anggaran yang bisa digunakan hanya Rp180 juta,” jelas Budi. Ia menambahkan bahwa efisiensi ini berlaku untuk semua perangkat daerah, bukan hanya Disparpora.
Anggaran tersebut difokuskan untuk pemeliharaan mekanisme hidrolis dan konstruksi payung. Perawatan ini tidak mencakup biaya listrik maupun kebersihan lingkungan alun-alun.
“Kalau ada potensi kerusakan, maka dana ini yang dipakai untuk memperbaiki,” kata Budi. Ia menyebut pihaknya ingin mencegah hal-hal yang berisiko merusak ikon kota tersebut.
Sejak dibangun pada 2022, payung madinah tercatat beberapa kali mengalami masalah teknis. Pemerintah ingin memastikan hal serupa tidak terulang dengan pemeliharaan intensif.
“Meski anggaran dipangkas, selama tidak ada kerusakan berat, dana ini tetap cukup,” terang Budi. Ia optimis perawatan rutin dapat dilakukan dengan anggaran yang tersedia.
Keberadaan payung madinah diharapkan terus mempercantik wajah Kota Pasuruan. “Ikon ini harus tetap terjaga agar masyarakat merasa bangga dan wisatawan semakin tertarik datang,” pungkas Budi. [ada/aje]






