Surabaya (beritajatim.com) – PLATO Foundation dengan dukungan UNICEF mengadakan workshop penguatan dukungan untuk memperluas program roots di Indonesia dengan melibatkan unsur pentahelix di Jawa Timur.
Workshop sendiri dilakukan secara daring dan luring diikuti oleh beberapa peserta dari unsur pentahelix yaitu perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, fasilitator nasional wilayah jawa, fasilitator guru, agen perubahan roots, akademisi, media dan perusahaan.
“Perlu kolaborasi yang melibatkan unsur pentahelix untuk merespon dan menangani kasus perundungan di sekolah,” kata Direktur Plato Foundation, Dita Amalia saat workshop di Hotel Yellow, Jemursari, Surabaya, Jumat (10/12/2021).
Dita menjelaskan perundungan atau bullying sendiri merupakan isu global yang menjadi masalah penting di Indonesia. Pencegahan kekerasan (termasuk perundungan) merupakan bagian dari upaya perlindungan anak, sebagaimana tercantum pada RPJMN 2020-2024 serta Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Satuan Pendidikan.
“Pencegahan kekerasan juga menjadi salah satu upaya penguatan karakter siswa didik melalui promosi profil Pelajar Pancasila. Terobosan program pencegahan perundungan berbasis sekolah dikenal sebagai “ROOTS” telah dikembangkan oleh UNICEF bersama Pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak,” papar Dita.
Dita menyebut program ini telah berhasil menurunkan hingga 29,6% angka perundungan di sekolah tingkat SMP yang dijalankan di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan pada 2017.
Roots, lanjutnya, berfokus pada membangun iklim positif sekolah melalui kegiatan yang dipimpin oleh siswa sebagai agen perubahan untuk menyebarkan pesan dan perilaku positif di lingkungan sekolah.
Bahkan, fasilitator Nasional Roots yang dilatih oleh Yayasan PLATO bersama mitra dengan dukungan UNICEF telah melaksanakan tugasnya memfasilitasi fasilitator guru pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diselenggarakan oleh PUSPEKA- Kemendikbudristek.
Begitu pula fasilitator guru telah berproses membentuk dan mendampingi siswa dalam perannya sebagai agen perubahan untuk mengimplementasikan Program Roots di sekolah. “Agen perubahan inilah yang menjadi ujung tombak dari program ini, dimana pencegahan perundungan dilakukan oleh siswa dan untuk siswa,” ucap Dita.
[berita-terkait number=”4″ tag=”plato-foundation”]
Hasil polling yang dilakukan oleh PLATO kepada 2442 siswa di sekolah penggerak menunjukkan bahwa sebanyak 97% siswa menganggap bahwa agen perubahan mampu mencegah perundungan di sekolah.
Terkait dengan dampak perundungan, 89,8% korban perundungan mengalami sedih, depresi dan menyendiri. Serta sebesar 75% mereka tidak tahu layanan pengaduan untuk penanganan perundungan.
Mengacu pada hasil polling menunjukkan bahwa program roots perlu untuk diperkuat, dilanjutkan dan diperluas khususnya di Jawa Timur.
Tentunya untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan komitmen, dukungan dan sinergitas semua pihak terutama dari unsur pentahelix untuk bekerja bersama mencegah dan menghentikan perundungan di sekolah dalam kerangka melindungi dan menyelamatkan anak.
“Kita berharap ada dukungan terhadap keberlanjutan dan perluasan program roots Indonesia wilayah Jawa dari Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta unsur pentahelix terkait di Wilayah Jawa,” tandasnya.(asg/ted)






