Ngawi (beritajatim.com) – Perajin tempe dan keripik tempe di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengeluhkan lonjakan harga kedelai impor dan bahan plastik pembungkus yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan biaya produksi ini memaksa pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari memperkecil ukuran produk hingga menghentikan sementara produksi.
Di sentra industri tempe Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, harga kedelai impor kini mencapai Rp10.400 per kilogram atau Rp520 ribu per sak. Angka tersebut naik dari sebelumnya Rp9.700 per kilogram atau Rp485 ribu per sak.
Kondisi ini membuat para perajin kesulitan untuk menaikkan harga jual karena khawatir ditinggalkan pelanggan. Sebagian memilih bertahan dengan mengurangi ukuran tempe, sementara lainnya menekan jumlah produksi dari sebelumnya satu kuintal menjadi sekitar 50 kilogram per hari.
Tekanan biaya produksi semakin berat setelah harga plastik pembungkus ikut melonjak, dari Rp29 ribu menjadi Rp43 ribu per kilogram. Kenaikan ini diduga dipengaruhi dampak konflik di Timur Tengah yang berimbas pada pasokan bahan baku.
“Semua mahal. Kedelai naik, belum lagi plastik pembungkus harganya di atas rata-rata. Kami bertahan karena takut ditinggal pelanggan,” ujar Rusmiati, salah satu perajin tempe, Jumat (3/4/2026).
Situasi serupa juga dialami perajin keripik tempe di kawasan yang sama. Bahkan, sebagian pelaku usaha memilih menghentikan produksi untuk sementara waktu guna menghindari kerugian.
Harga plastik kemasan keripik tempe kini mencapai Rp50 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp34 ribu. Selain itu, harga minyak goreng curah juga mengalami kenaikan dari Rp18 ribu menjadi Rp22 ribu per kilogram.
“Kalau yang usahanya besar masih bisa bertahan. Kalau kami, lebih baik berhenti dulu karena semua naik, mulai dari kedelai, plastik, hingga minyak goreng,” kata Mira Hartanti, perajin keripik tempe.
Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai dan bahan pendukung produksi lainnya. Pasalnya, lonjakan harga yang berkepanjangan dikhawatirkan mengancam keberlangsungan usaha mikro di daerah tersebut. [fiq/aje]






