Mojokerto (beritajatim.com) – Perajin cobek Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto kecipratan berkah menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meski pelaku usaha desa penghasil gerabah, khususnya cobek, ini harus bersaingan di tengah gempuran bahan kebutuhan rumah tangga berbahan plastik.
Salah satu perajin cobek yang kebanjiran pesanan yakni Eni Suliati (54). Istri dari Suliono ini bahkan sampai terpaksa membatalkan dan menolak pesanan karena keterbatasan lahan untuk proses penjemuran. Ini lantaran ia harus memenuhi pesanan bulanan dari sejumlah daerah tiap bulannya.
“Setiap bulan pengiriman dua pickup cobek, satu pickup ini berisi 1.500 sampai 2.000 cobek dikirim ke berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Angka kiriman perbulannya termasuk mengalami peningkatan selama kurung beberapa bulan terakhir,” ungkapnya, Rabu (27/9/2023).
Di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ia mengaku tidak bisa melayani pesanan sebanyak 4.000 cobek. Dengan rincian permintaan layah 1.000, cobek 1.000, dan layah tanggung 2.000 tersebut dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Mojokerto dan Malang.
“Itu pesanan orang dari Malang, Mojosari dan Sawahan, Bangsal, Mojokerto. Tapi kami tidak mampu melayani karena keterbatasan lahan buat jemur. Bagi saya mauludan ini telah banyak tergantikan sama nampan plastik, sehingga mau tidak mau kami harus bersaing,” katanya.
Eni berpandangan bahwa permintaan terhadap cobek saat ini bersaing karena kebiasaan masyarakat desa yang beralih ke penggunaan wadah plastik. Usaha yang dirintis Eni sejak tahun 2012 ini, dibantu tiga orang karyawannya dengan produksi setiap karyawan mampu menghasilkan 400-500 cobek.
“Ada tiga karyawan tapi saya juga punya dua mesin cetakan cobek dengan empat cetakan yang masing-masing mampu mencetak cobek dengan diameter 15 cm, 20 cm, 30 cm, dan 40 cm. Setiap minggunya masih bisa kirim 1.000 cobek. Dikirim keliling dan juga stor ke pasar-pasar,” ujarnya.
Cobek produksi Eni dibandrol dengan harga sesuai ukuran. Untuk cobek dengan diameter 40 cm, Eni menjual Rp5 ribu. Cobek dengan diameter 30 cm dijual harga Rp3,5 ribu. Cobek dengan diameter 20 cm dijual dengan harga Rp2,5 ribu, sedangkan cobek dengan diameter 15 cm dibandrol dengan harga Rp1,5 ribu.
Dari usaha tersebut, ibu tiga orang anak ini mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang sarjana (S1) di salah satu universitas ternama di Surabaya. Semangat perjuangan demi anak-anaknya inilah yang mengantarkan Eni untuk bekerja keras hingga mampu mempertahankan usaha gerabah miliknya.
BACA JUGA:
PN Mojokerto Jatuhkan Vonis 15 Tahun Penjara untuk Pemerkosa Mayat Bocah SMP
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Mlaten, Dwi Siswarini menjelaskan, jumlah perajin gerabah di desanya sekitar 100 orang dengan jumlah penduduk kurang lebih 5.425 jiwa. Untuk produksi, warga dibantu beberapa karyawan dilihat kemampuan dari masing-masing pengusaha.
“Satu orang bisa menghasilkan 300-500 cobek setiap harinya, mereka sudah pelanggan masing-masing meski di desa kami banyak pengrajin gerabah khususnya cobek,” jelasnya. [tin/but]
![Perajin Cobek di Mojokerto Kebanjiran Pesanan Saat Maulid Nabi Eni Suliati menunjukkan cobek hasil usahanya di rumahnya di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/09/IMG-20230927-WA0005_xtVyDDHL9c-1024x576.jpeg)






