Gresik (beritajatim.com)– Progres penurunan stunting di Kabupaten Gresik mulai terlihat. Hal tersebut berdasarkan Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Stunting atau gizi buruk terhadap pertumbuhan anak per Januari 2023 turun 10,7 persen dari 23,5 persen atau turun 12 persen. Penurunan itu, tidak hanya Dinkes saja yang bekerja namun melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
Kepala Dinkes Kabupaten Gresik, dr Muakibatul Khusna menuturkan, strategi kami menurunkan stunting tidak lepas mendorong puskesmas melakukan percepatan inovasi bagaimana stunting turun. Tidak hanya Dinkes saja yang terlibat melainkan stakeholder juga dilibatkan.
“Semua bergerak mempercepat menurunkan stunting. Dinas Pertanian dan Dinas Kelautan Perikanan turut dilibatkan soal asupan gizi bagaimana membantu pertumbuhan anak,” tuturnya, Kamis (26/01/2023).
Masih menurut Khusna, tingginya stunting selama ini karena kolaborasinya belum maksimal. Untuk itu, kedepannya penanganannya difokuskan ke by name dan by address.
“Kalau fokus ke sana kita bisa mengetahui secara dini anak yang masuk kategori stunting,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pemkab-gresik”]
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengapresiasi menurunnya stunting. Dirinya, juga kaget sebagai daerah industri kasus stunting masih cukup tinggi. Karena itu, dirinya sangat serius fokus pada penanganan kasus ini. Salah satu yang dilakukan melalui kampanye keluarga sehat di desa-desa.
“Kampanye pentingnya gizi untuk pertumbuhan anak sangat penting. Sebab, saat ini masih ada warga yang belum mengerti soal gizi anak,” paparnya.
Bupati milenial ini menyatakan selain persoalan gizi. Kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan. Mulai dari lingkungan keluarga, kesehatan, dan lingkungan sekitar.
“Permasalahan stunting harus tuntas meski sudah turun. Jangan sampai kasus ini kembali muncul lagi,” ujarnya. (*/dny/ted)






