Ponorogo (beritajatim.com) — Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menegaskan peran strategis perguruan tinggi vokasi dalam memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Melalui Program Katalisator Kemitraan Berdikari, PENS tidak sekadar hadir sebagai institusi akademik, tetapi turun langsung mengimplementasikan riset terapan di tingkat tapak, salah satunya di Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo.
Program Berdikari Berdampak ini pun ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Diktisaintek, Ahmad Najib Burhani. Di Desa Krisik Kecamatan Pudak, PENS mengembangkan 7 inovasi utama yang menyasar efisiensi produksi, pengolahan limbah, hingga peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat. Nantinya, diharapakan 7 inovasi ini menjadi fondasi penting bagi penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, khususnya sektor peternakan, energi terbarukan, hingga transportasi ramah lingkungan.
Berbeda dengan pendekatan riset konvensional, program Berdikari dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. PENS mengimplementasikan 7 riset terapan yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, dari kandang ternak hingga industrialisasi teknologi.
“Hari ini kita melihat tentang produksi yang dimiliki oleh PENS, yang kerja sama pendanaan dari LPDP dan Kemendiktisaintek,” kata Ahmad Najib Burhani, Selasa (16/12/2025).
Najib mengungkapkan, dalam kunjungannya ini, inovasi PENS yang mencuri perhatiannya ialah D-COWs-Reog dan SMART-UHT. D-COWs-Reog merupakan sistem otomatisasi kandang berbasis teknologi informasi terpadu. Riset ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan sapi perah, mulai dari pemantauan kesehatan ternak hingga produktivitas susu. Sementara SMART-UHT, merupakan pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk otomatisasi produksi susu UHT. Teknologi ini mendorong standar kualitas produk, efisiensi proses, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi lokal berbasis susu olahan.
“Ini sangat cocok di sini, untuk memelihara sapi dan pengolahan susu. Agar bisa bertahan lama, dengan proses alat ini susu bisa bertahan lama,” kata Najib.
Ini merupakan prospek yang cerah, terutama untuk warga lokal di sini. Bukan hanya bisa untuk makan bergizi gratis (MBG), produksi susu bisa berkembang, dan bisa mengangkat industri sapi di sini.
“Dengan adanya inovasi ini, bisa menjadi fasilitas industri yang lebih besar. Sehingga peternak dapat keuntungan lebih besar dan bermanfaat untuk masyarakat lain,” katanya.
Selain 2 inovasi itu, masih ada 5 lagi inovasi yang diproduksi PENS di Kecamatan Pudak. Yakni POROS-PJU, sistem penerangan jalan umum cerdas berbasis IoT yang menekan konsumsi energi. Inovasi ini menyasar efisiensi anggaran sekaligus peningkatan layanan infrastruktur di wilayah pedesaan.
Keempat, CREATE e-ATV, merupakan solusi ekosistem elektrifikasi transportasi untuk mendukung mobilisasi hasil susu dan pengangkutan limbah peternakan. Riset ini mempertemukan kebutuhan logistik peternak dengan teknologi kendaraan listrik yang ramah lingkungan.
Kelima, WAROK-GREEN, ialah optimalisasi produksi biogas dari limbah kotoran sapi. Program ini tidak hanya menekan pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka sumber energi alternatif yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Keenam, ROBOTANI, pengembangan robot penanam padi sebagai bagian dari sistem pertanian cerdas. Inovasi ini diarahkan untuk akselerasi produktivitas pertanian sekaligus mendukung agenda besar kemandirian pangan nasional.
Ketujuh, industrialisasi motor Axial Flux BLDC, yang difokuskan pada peningkatan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem elektrifikasi transportasi nasional. Riset ini menempatkan vokasi sebagai penggerak industri berbasis teknologi tinggi.
Program Katalisator Kemitraan Berdikari menegaskan bahwa pendidikan vokasi tidak berhenti pada ruang kelas atau laboratorium. Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan masyarakat, riset PENS diposisikan sebagai alat perubahan sosial-ekonomi.
“Program ini, kami kerjasama dengan Kementerian, untuk bisa memberikan solusi-solusi yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” kata Direktur PENS, Arif Irwansyah.
Menurut Arif, teknologi yang ada di kampus, tidak hanya berhenti di kampus. Tetapi teknologinya bisa dimanfaatkan untuk masyarakat yang memang membutuhkan.
program yang bisa memberi solusi2 yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. teknologi yg ada di kampus, tidak ada yg berhenti di kampus, tapi bisa dimanfaatkan masyarakat untuk memang membutuhkan.
“Di harapkan bisa meningkatkan di sisi pendapatan, ini kan peternakan dan pertanian, tentu dengan menggunakan teknologi yang tepat, bisa menambah dari sisi kualitas, jumlah produksi bisa dinaikkan bertahap,” pungkas Arif. [end/beq]






