Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menutup enam pasar hewan yang ada di wilayah Kabupaten Mojokerto karena diduga teridikasi Penyakit Kuku dan Mulut (PMK).
Namun stok daging sapi di Pasar Kedung Maling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto masih aman.
Salah satu pembeli, Makrifah (47) mengatakan, ia sudah mengetahui PKM pada sapi ditemukan di beberapa wilayah di Jawa Timur termasuk Mojokerto. “Iya tahu (PMK pada sapi). Iya khawatir tapi karena butuh untuk selamatan 40 hari kakak,” ungkap warga Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini.
Salah satu pedagang daging, Didiek Nurdiansyah (41) mengaku, juga khawatir ada PMK pada sapi. Apalagi pedagang asal Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini, hanya berjualan daging sapi sehingga kekhawatiran pembeli turun di tempatnya cukup beralasan.
“Kita pedagang kan dapat sudah dalam bentuk daging dari jagal (rumah potong hewan) sehingga kita tidak tahu, apakah daging ini bebas dari penyakit. Karena untuk PMK kan tahunya dari hewan yang masih hidup bukan daging. Selama ini juga tidak ada sosialisasi dari petugas,” paparnya.
Menurutnya, para pedagang mengetahui daging kwalitas bagus adalah daging yang masih berwarna merah ceri dan tampak segar. Namun selama ini tidak ada petugas yang memberikan sosialisasi kepada pedagang seperti saat ini, ada kasus PMK pada sapi.
“Kalau saya yang alami di sini, masih aman tapi ada pedagang yang mengeluhkan hal itu. Saya sendiri juga ada kekhawatiran daging, ini pengalihan isu agar harga turun. Apalagi jelang Idul Adha. Sebenarnya, kalau Idul Adha harga tinggi itu sapi untuk korban, untuk yang disembelih kayak gini cenderung turun,” tuturnya.
Meski diakui stok terbatas. Daging sapi yang ia jual dari rumah potongan hewan yang ada di sekitar Pasar Kedungmaling, bukan termasuk enam pasar ternak yang ditutup Pemkab Mojokerto. Sehingga ia tidak khawatir jika stok daging sapi kosong imbas dari penutupan enam pasar ternak tersebut.
“Isunya (PMK) sudah dua minggu lalu, tidak ada perbedaan di sini (penjualan). Tapi setelah gencarnya pasar ternak ditutup, kita juga ada kekhawatiran. Stok daging sapi menurun, yang motong jadi ragu-ragu karena memang untuk mengetahui penyakit seperti diperlukan tes yang benar-benar. Kalau pedagang kan tidak tahu, daging ini sehat atau sakit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pasar Kabupaten Mojokerto, Samsul Hadi mengatakan, satu minggu pasca Lebaran 2022 aktivitas pedagang sejumlah pasar di Kabupaten Mojokerto belum maksimal. “Belum banyak jual, baru beberapa,” urainya.
Jumlah pedagang yang belum banyak berjualan, menurutnya bukan karena imbas PMK pada sapi. Namun memang karena masih dalam kondisi Lebaran 2022. Untuk daging sapi di sejumlah pasar di Kabupaten Mojokerto masih aman meski ada kabar terkait PMK pada sapi.
“Aman. Tidak ada masalah. Tidak banyak yang jual karena memang masih kondisi Lebaran bukan karena tidak ada stok daging sapi. Apalagi kemarin, pasca Lebaran Ketupat yang jual daging sapi sepi. Hari ini, sudah mulai beberapa yang jual. Kondisi ini hampir sama di sejumlah pasar,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kota-mojokerto”]
Menurut data terbaru Bidang Peternakan, Dinas Perternakan dan Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, terdapat 408 ekor sapi yang terjangkit PMK. Ratusan ekor tersebut, tersebar di 45 desa dan 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.
Sesuai Surat Edaran dari Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko Nomor 520/1305/416-118/2022 tentang Penutupan Kegiatan Jual Beli Ternak, penutupan dilakukan selama satu bulan mulai 8 Mei 2022 hingga 8 Juni 2022.
Enam pasar hewan terbesar di Kabupaten Mojokerto ditutup selama satu bulan yakni pasar sapi wilayah Ngrame Kecamatan Pungging, pasar hewan Pandan Kecamatan Pacet, pasar hewan Kecamatan Gondang, pasar hewan Jatirejo, Sawahan Kecamatan Bangsal dan pasar hewan di Kecamatan Kemlagi. [tin/ted]







