Mojokerto (beritajatim.com) – Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 2024 kembali ke Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kali ini, pelatihan menyasar ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan bapak-bapak.
Pelatihan yang digelar di Balai Desa Jatipasar ini kolaborasi dua fakultas, yakni Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Ilmu Budaya. Program PPDB Unair 2024, Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipatif dan Kolaboratif tersebut mengambil tema ‘Batik dan Terakota Indonesia, Potensi Ragam Motif, Warga dan Filosofi Budaya Kekayaan Indonesia’
Ibu-ibu PKK dan bapak-bapak di Desa Jatipasar tersebut mendapatkan materi terkait Terakota, Desain, Corak, Teknologi dan Filosofi Budaya Kekayaan Indonesia dari Dr Arif Suharsono, S.Sn, M.Sn. Dr Arif Suharsono, S.Sn, M.Sn merupakan dosen seni rupa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Materi kedua yakni Menggambar Motif Batik, Mencanting dan Mewarnai Batik sebagai Upaya Pelestarian Batik Indonesia.
Materi kedua disampaikan oleh ahli batik, Aruman, S.Sn. Setelah menerima materi, para peserta diajak praktik menggambar motif batik di kertas gambar dan kain putih. Kemudian dilanjutkan mencanting motif batik pada kain putih, demo pewarnaan batik dan proses menghilangkan lilin.
Sekretaris Desa (Sekdes) Jatipasar, Pergola Andrawina mengucapkan kepada Unair yang telah berkenan hadir memberikan ilmu untuk warga Desa Jatipasar. “Apa ilmu yang didapat dapat membantu perekonomian warga Drsa Jatipasar. Harapan saya tidak hanya yang hadir saja tapi yang hadir bisa menularkan ilmunya ke warga lain,” harapnya, Kamis (8/8/2024).
Masih kata Sekdes, pihaknya berharap kegiatan Pengmas PPDB Unair tersebut bisa terus berlanjut di Desa Jatipasar. Sekdes pun memberikan masukan terkait bentuk terakota yang dihasilkan pengrajin Desa Jatipasar. Karena bentuk terakora pengrajin Desa Jatipasar besar sehingga konsumen yang berminta sedikit.
“Contohnya dari terakota di sini, terokotanya masih dalam bentuk besar-besar sehingga nilai jualnya tidak terlalu banyak karena mungkin biaya besar sehingga peminatnya tidak terlalu banyak. Kami berharap ada souvenir lebih kecil, harga lebih murah jadi bisa menjangkau dan menarik perhatian konsumen,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pengmas Prodi S1 Teknik Biomedis, Fakultas Sains dan Teknologi, Unair, Dr Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes, S.Bio, CCD menjelaskan, ada kekayaan budaya di Desa Jatipasar yang sudah dikembangkan warga yakni batik dan terakota. “Itu sejalan dengan misi kami yang ingin menguatkan potensi dari Desa Jatipasar,” ujarnya.
Terutama kaitannya dengan sejarah dan budaya Kerajaan Majapahit. Dari hasil survey, lanjutnya, di Desa Jatipasar jumlah pengrajin batik dan terakota masih sangat sedikit. Ada dua pengrajin batik yang sudah mempunyai izin usaha ada satu batik cap dan satu batik tulis, sementara pengrajin terakota di Desa Jatipasar hanya ada satu orang.
“Di kesempatan ini yang kami undang, ibu-ibu PKK dan bapak-bapak. Ada juga pembatik, Bu Yuliarni dan pengrajin terakota, Pak Lahuri sehingga harapannya dengan kegiatan ini memotivasi mereka bisa menjadi agen-agen seperti Bu Yuliarni dan Pak Lahuri. Kalau kita angkat potensinya maka kita butuh orang lebih banyak, tidak hanya satu. Ini batik dasar dan narasumbernya kita datangkan dari ISI Yogyakarta,” tuturnya.
Kedepan diharapkan dari bibit-bibit tersebut bisa semakin mengasah dan membantu memperbanyak batik dan terakota di Desa Jatipasar. Dalam pertemuan ketiga yang direncanakan pada bulan September 2024 mendatang, akan ada pelatihan terkait pemasaran hasil dari pelatihan di sesi kedua yakni batik dan terakota.
“Karena memang berbekal dari informasi yang dulu saya terima, Desa Jatipasar yang merupakan pintu gerbang Kerajaan Majapahit belum terlalu muncul di permukaan. Branding itu yang coba kita bangun, mulai dari pengetahuan, keterampilan dari warganya nanti kita bantu mempromosikan potensi budayanya. Tidak hanya sekedar pintu gerbang Kerajaan Majapahit,” urainya.
Terkait masukan dari Sekdes Jatipasar terkait bentuk terakota, lanjutnya, nantinya akan diformulasikan dengan para ahli dari ISI Yogyakarta sehingga diharapkan terakota yang dihasilkan lebih menjual. Diharapkan kehadiran Pengmas PPDB Unair Surabaya bisa mengangkat potensi Desa Jatipasar.
“Orang lebih banyak mengetahui kemudian juga bisa membuat perekonomian warga Desa Jatipasar. Kita ada di Desa Jatipasar untuk dua tahun kedepan, kegiatan seperti ini akan ada satu kali lagi. Di tahun kedua, kita akan menggali Desa Jatipasar sehingga nantinya akan menghasilkan buku dan video profil Desa Jatipasar,” tegasnya. [tin/but]







