Jombang (beritajatim.com) – Sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur begitu melekat bagi warga Tionghoa. Gus Dur ibarat dewa bagi mereka. Karena lewat kebijakan Gus Dur saat menjadi presiden RI, warga Tionghoa bisa menjalankan ibadah di Klenteng. Warga Tionghoa bisa memperingati Hari Raya Imlek secara terbuka.
Untuk menghormati jasa Gus Dur itulah sebuah klenteng di Semarang mengganti sajian daging babi dengan kambing saat perayaan Imlek. Di Klenteng tersebut juga terdapat altar Gus Dur, selain altar tokoh-tokoh Tionghoa. Pernyataan itu diungkapkan oleh pegiat wayang Potehi dari Klenteng Gudo Jombang, Toni Harsono, Minggu (18/12/2022).
“Sosok Gus Dur sangat berjasa bagi kami. Beliau yang membuka kran kebebasan bagi warga Tionghoa di Indonesia. Sehingga kami bisa merayakan Imlek secara terbuka. Bahkan di Semarang ada Klenteng yang mengganti sajian daging babi menggunakan kambing saat Imlek. Itu untuk menghormati Gus Dur,” kata Toni saat menyampaikan testimoni dalam Haul ke-13 Gus Dur yang digelar oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jombang.
Toni alias Tok Hok Lay merupakan pegiat watang Potehi yang berpusat di Klenteng Hong San Kiong Gudo. Dia mencintai kesenian asli Tionghoa itu sejak kecil. Kakeknya Tok Su Kwie dan ayahnya Hok Hong Kie merupakan dalang wayang potehi, darah seni yang diwarisinya pun membuat dia getol melestarikan wayang potehi.
Terbaru, Toni tampil dalam Tong Tong Fair di Belanda, pada 1-11 September 2022. Tong Tong Fair (TTF), adalah festival budaya Asia dan Indonesia terbesar di Belanda, dan merupakan ajang pagelaran seni dan budaya Asia-Pasifik yang tertua di Belanda. Padahal sebelumnya, kesenian tersebut sempat mati suri selama kurang lebih 30 tahun.
[berita-terkait number=”3″ tag=”gus-dur”]
Selama orde baru, warga Tiong Hoa dibatasi dalam bereskpresi. Perayaan Imlek dilarang. Seni budaya dari Tionghoa tak boleh ditampilkan di muka umum. Baru pada pada masa pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, kesenian itu hidup kembali. Karena Gus Dur mencabut Instruksi Presiden atau Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan perayaan Tahun Baru Imlek di tempat-tempat umum di Indonesia.
Pada tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres tersebut dengan mengeluarkan Keppres nomor 6 tahun 2000 tentang pencabutan Inpres Nomor 14 tahun 1967. Keppres tersebut menjadi awal bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, serta adat istiadat mereka, termasuk upacara keagamaan seperti Imlek secara terbuka.
Itulah angin segar bagi kaum Tionghoa. Tono Harsono sendiri akhirnya bisa mengembangkan wayang Potehi. Bahkan saat ini budaya tersebut sudah berkibar di tingkat internasional. Toni pentas di berbagai tempat. “Kalau tidak ada Gus Dur, orang tidak akan mengenal wayang potehi. Jasa beliau sangat besar terhadap warga Tionghoa,” ujar Tok Hok Lay yang disambut tepuk tangan hadirin.
Toni kembali menceritakan warga Pecinan di Semarang terhadap Gus Dur. “Belum lama ini saya mengirimkan menu kesukaan Gus Dur, kikil abang Mojosongo Jombang, ke warga Tionghoa yang ada di Semarang. Itu bentuk kecintaan mereka terhadap Gus Dur,” ujar Tok Hok Lay mengakhiri testimoninya. [suf/ted]






