Malang (beritajatim.com) – Pengembang Salvia Premium Kos Primaland membantah membangun pagar perumahan untuk pembatas lahan tidak sesuai aturan. Pagar ini dibangun di lahan mereka tujuannya untuk memberi keamanan bagi warga perumahan.
Pembangunan pagar dinilai petani sekitar kompleks Salvia menghalangi jalan mereka. Tembok perumahan eklusif di Jalan Joyo Utomo V, Lowokwaru, Kota Malang itu dianggap membuat petani harus berjalan jauh.
Head Legal Primaland, Yanuar Risyahwan mengatakan, pembangunan pagar ini dilakukan di lahan mereka yang berbatasan dengan irigasi. Dia memastikan pagar yang didirikan itu sebenarnya bukanlah jalan umum. Namun memang tanah milik Primaland.
“Kami sebetulnya sudah memiliki izin SHGB dari Kantor ATR/BPN Kota Malang. Untuk area Salvia Premium Kos, memang berbatasan dengan irigasi, bukan jalan umum atau fasilitas umum. Demi keamanan, oleh sebab itu kami tutup,” kata Yanuar.
Yanuar juga mengungkapkan perumahan yang dikembangkan Primaland termasuk Salvia Premium Kos menerapkan konsep one gate system. Bahkan konsep ini di awal pembangunan sudah sesuai arahan warga dan aparatur desa.
BACA JUGA:
Artiland Group Bisnis Rumah Kos Premium di Malang Karena Banyak Mahasiswa dan Pelajar
“Kami membangun kompleks itu mulai 2020, sekarang progresnya sudah 85 persen dan mulai ada penghuni di dalam. Kami menerapkan one gate system agar menjaga keamanan di sana,” imbuh Yanuar.
Pasca ramai soal tembok ini, Primaland dan warga termasuk petani, perangkat daerah melakukan mediasi beberapa kali. Kini mereka menyiapkan opsi untuk memperbaiki jalan di sisi utara agar para petani bisa berjalan dengan nyaman.
“Rencananya, kami akan mediasi lagi dengan opsi yang kami tawarkan tadi setelah 17 Agustus nanti. Karena masih sibuk agenda peringatan HUT Kemerdekaan RI,” ujar Yanuar.
Sementara itu, salah satu petani bernama Edy Purnomo, (50 tahun) mengatakan bahwa tuntutan petani hanya satu saja yakni akses jalan dibuka kembali. “Kami ingin aksesnya dibuka kembali. Karena kalau lewat di sisi utara lahan, petani sering jatuh dan terperosok,” ujar Edy. [luc/suf]






