Jember (beritajatim.com) – Prabowo Subianto resmi dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Minggu (20/10/2024). Jabatan ini sesungguhnya merupakan batu uji sesungguhnya terhadap karakternya.
“Kesetian pada konstitusi dan rakyat akan terlihat langsung. Apakah ia setia atau serong pada amanah rakyat yang telah memilihnya? Biarlah sejarahnya yang akan menjawabnya,” kata Moch. Eksan, pengamat politik yang juga pendiri Eksan Institute, Senin (21/10/2024).
Menurut Eksan, selama ini Prabowo terbukti setia pada konstitusi. “Kendati punya peluang dan kesempatan untuk untuk mengambil alih kekuasaan dengan kontrakonstitusi, alumni The American School London Inggris ini tetap setia di jalan demokrasi,” katanya.
Prabowo memilih mendirikan Partai Gerindra pada 6 Februari 2008 sebagai pintu masuk dan alat untuk meraih kekuasaan. Setelah gagal pada Pemilu 2014 dan 2019, Prabowo sukses meraihnya pada Pemilu 2024.
“Prabowo berhasil mengubah citra dirinya yang temperamental dan keras menjadi sabar, halus dan lembut. Ini modal meraih simpati rakyat. Tiba-tiba, rakyat banyak yang menjatuhkan pilihan kepadanya berkat keberhasilan me-makeover wujud pribadinya di hadapan publik,” kata Eksan.
Dalam pandangan Eksan, saat ini Prabowo menampilkan sosok yang lebih humanis dan tak terlalu kentara militeristis. Namun sosok baru itu akan diuji oleh godaan kekuasaan.
“Memang, bertambahnya usia, Prabowo tampak semakin tulus dan ikhlas. Berbagai kekalahan telah banyak memberi pelajaran untuk menjadi sosok pribadi yang sopan dan santun, menghormati sesama, serta juah dari tinggi hati dan sombong,” kata Eksan.
“Namun di singgasana kekuasaan, hari-hari Prabowo pasti akan dipenuhi dengan godaan dari keluarga, teman, dan musuh untuk memanfaatkan otoritas negara demi kepentingan oligarki dan komparador asing. Sementara, ia sudah meletakkan kakinya di atas kepentingan rakyat,” kata tambah alumnus Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember ini.
Puncak kekuasaan yang dibutuhkan oleh politisi, menurut Eksan, adalah untuk melayani diri dan rakyatnya. “Puncak ambisi kekuasaan seorang politisi adalah melayani rakyat untuk memenuhi kebutuhannya,” tegasnya. [wir]






