Jombang (beritajatim.com) – Jombang dengan segala keberagamannya telah lama dikenal sebagai Kota Santri. Sebuah julukan yang tumbuh secara alami dan tak tergantikan, mengakar kuat dalam setiap sudut kehidupan masyarakatnya.
Namun, di tengah berbagai upaya untuk memperkenalkan branding baru, muncul sebuah pertanyaan penting: Apakah Jombang bisa melepaskan identitasnya sebagai Kota Santri begitu saja?
Moch Faisol, penelusur sejarah Jombang sekaligus anggota Komunitas Pelestari Sejarah (KompaS) Jombang, mengungkapkan bahwa branding Kota Santri yang melekat pada Jombang adalah hasil dari warisan sejarah yang kuat.
Ia menyebut, meskipun beberapa daerah lain mencoba mengklaim sebutan serupa, tidak ada yang sekuat Jombang dalam hal identitas ini. Jombang memiliki Pondok Pesantren yang pendirinya juga merintis organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU (Nahdlatul Ulama). “Makamnya bahkan berada di kompleks pondok Jombang,” katanya, Senin (14/4/2025).
Sebagai tanah kelahiran Gus Dur, Jombang semakin mengukuhkan diri di mata dunia sebagai tempat yang tidak hanya kaya akan nilai keislaman, tetapi juga sebagai simbol harmoni antara kaum santri dan nasionalis.
Gus Dur, yang dimakamkan di Jombang, memberi dimensi baru pada identitas Jombang. “Awalnya tidak banyak yang tahu letak Kabupaten Jombang, namun sejak ada makam Gus Dur, Jombang mulai dikenal sebagai kota tempat Gus Dur dimakamkan. Tapi kemudian, tidak serta merta mengubah Jombang menjadi kota Gus Dur kan? Tetap saja Jombang ya kota santri,” jelasnya.
Faisol menegaskan bahwa Jombang harus berhati-hati. Branding baru bisa dipertimbangkan, tetapi jangan sampai mengorbankan akar budaya yang sudah tertanam begitu dalam. Bagaimana Jombang bisa menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi dalam membangun citra baru?
“Ini bukan hanya soal mengganti label, tetapi soal menjaga warisan yang sudah ada—sesuatu yang tidak bisa direduksi atau diubah begitu saja,” pungkas penulis buku ‘Jejak Laskar Hizbullah Jombang’ ini. [suf]






