Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Sekolah Tak Penuhi Pagu PPDB Ponorogo Boleh Buka Pendaftaran Offline

Ponorogo (beritajatim.com) – Sekretaris Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ponorogo, Soeran, mengatakan sekolah yang tidak memenuhi pagu diberi kesempatan untuk menyerap lebih banyak peserta didik. Sekolah yang bersangkutan dibolehkan membuka pendaftaran secara offline untuk mengisi kuota yang belum terpenuhi lewat PPDB online.

“Pendaftaran secara offline ini dibuka hingga dimulainya tahun ajaran baru atau tanggal 11 Juli nanti,” kata Soeran, Kamis (30/6/2022).

Saat ini, PPDB sedang dibuka untuk pendaftaran Sekolah Dasar Negeri di Ponorogo. Dari 580 SDN di Ponorogo, hanya dua sekolah yang memenuhi pagu siswa pada PPDB 2022.

Dua SDN itu adalah SDN 1 Mangkujayan dan SDN 2 Keniten. Sementera pagu siswa untuk SDN lain yang jumlahnya mencapai ratusan belum terpenuhi.

Soeran menerangkan dengan pendaftaran offline ini, calon siswa cukup datang ke sekolah yang dituju. Pihak sekolah akan mengarahkan mekanisme pendaftaran.

Tidak hanya sekolah dasar, pendaftaran secara offline juga berlaku untuk SMPN yang pagunya belum terpenuhi. “Pendaftaran offline juga berlaku untuk SMPN yang pagunya juga kurang,” katanya.

Untuk diketahui, banyaknya SD dengan pagu tidak terpenuhi sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kebanyakan dialami sekolah yang berada di pinggiran.

Soeran menyebut berdasarkan analis di lapangan, ada beberapa penyebab kondisi ini. Yang paling utama, kata Soeran, adalah jumlah angka kelahiran yang mengalami penurunan cukup besar.

“Rata-rata anak pertama dan orangtuanya pergi bekerja ke luar negeri,” ungkap Soeran.

Selain itu, juga karena lembaga pendidikan di masing-masing wilayah, seperti di desa maupun perkotaan agak padat. Baik itu lembaga pendidikan dinaungi Disdik maupun Kementerian Agama (Kemenag).

“Jumlah angka kelahiran turun, tetapi lembaga pendidikannya masih banyak. Otomatis, banyak yang kekurangan pagunya,” katanya.

Selama ini Disdik Ponorogo membebaskan masyarakat untuk memilih menyekolahkan anaknya. SD Negeri di Ponorogo, kata Soeran selama ini juga sudah melakukan banyak inovasi. Mulai dari program, baik intern pembelajaran maupun ekstra ataupun di bidang keagamaan.

“Analisis kita ya jumlah penduduk yang usia sekolah tiap tahun turun dan berkurang. Dulu mungkin usia sekolah besar, jadi pemerintah membangun lembaga-lembaga sekolah. Namun, seiring perkembangannya, usia sekolah berkurang dan lembaga pendidikan masih tetap,” pungkasnya. [end/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar