Blitar (beritajatim.com) – Sejak awal tahun hingga Desember 2023 ini, sebanyak 2171 anak di Kabupaten Blitar terdeteksi penyakit Pneumonia. Anak-anak yang dinyatakan terkena Pneumonia ini mayoritas berusia 0-5 tahun.
Bahkan, satu diantaranya tergolong Pneumonia berat. Kondisi anak yang terkena Pneumonia berat ini bagian dinding dadanya tertarik hingga ke dalam.
Pneumonia sendiri adalah kondisi inflamasi yang terjadi saat seseorang mengalami infeksi pada kantung-kantung udara dalam paru-paru. Kantung udara yang terinfeksi tersebut akan terisi oleh cairan maupun pus (dahak purulen). Gangguan ini dapat menyebabkan batuk berdahak atau bernanah, demam, menggigil, hingga kesulitan bernapas.
Baca Juga: Pengungsi Asing Ngamuk Rusak Fasilitas Rusunawa Puspa Agro Sidoarjo
“Jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan ada lebih dari 7 ribu namun yang dinyatakan terkena Pneumonia ada 2171 kasus,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, Sabtu (09/12/23).
Seluruh pasien Pneumonia tersebut kini telah mendapatkan perawatan medis. Pemberian antibiotik juga sudah dilakukan, agar kondisi pasien Pneumonia segera membaik.
Pasien Pneumonia ini sebenarnya bisa sembuh, asalkan rutin melakukan terapi antibiotik secara rutin. “Ya yang jelas kalau pasien rutin melakukan terapi antibiotik bisa sembuh,”terangnya.
Pneumonia lebih dikenal sebagai paru-paru basah di Indonesia. Penyakit ini bukan hanya dapat menimpa orang dewasa, melainkan juga terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang baru lahir.
Baca Juga: Taman Green Park Blitar, Wisata Murah untuk Libur Nataru
Baik pneumonia virus dan bakteri adalah penyakit yang menular. Berarti, seseorang yang mengidapnya dapat menyebarkan ke orang lain melalui menghirup tetesan udara dari bersin atau batuk. Maka dari itu, pengidap gangguan ini perlu menghindari cairan keluar dari mulutnya dengan menggunakan masker.
Gejala Pneumonia
Indikasi dan juga gejala ringan umumnya menyerupai gejala flu, seperti demam dan batuk. Gejala tersebut memiliki durasi yang lebih lama bila dibandingkan flu biasa.
Jika dibiarkan dan tidak diberikan penanganan, gejala yang berat dapat muncul, seperti:
- Nyeri dada pada saat bernapas atau batuk.
- Batuk berdahak.
- Mudah lelah.
- Demam dan menggigil.
- Mual dan muntah.
- Sesak napas.
- Gangguan pada kesadaran (terutama pada pengidap yang berusia >65 tahun).
- Pada pengidap yang berusia >65 tahun dan punya gangguan sistem imun, umumnya mengalami hipotermia.
Pada anak-anak dan bayi, biasanya gejala yang muncul berupa demam tinggi, anak tampak selalu kelelahan, tidak mau makan, batuk produktif, dan sesak napas, hingga napas anak menjadi cepat.
Baca Juga: Persepam Akan Hadapi Laga Berat Lawan Perssu Madura City
Diagnosis Pneumonia
Pertama-tama, dokter akan bertanya tentang gejala dan riwayat kesehatan yang pernah dialami, termasuk juga kebiasaan tidak sehat yang rutin dilakukan.
Setelahnya, dokter akan mendengarkan suara dari paru-paru. Pengidap pneumonia umumnya mengalami adanya suara retak, menggelegak, atau bahkan gemuruh saat menarik napas.
Beberapa pemeriksaan dari dokter yang umum dilakukan adalah:
- Tes darah.
- Rontgen dada.
- Oksimetri nadi.
- Tes dahak.
Selain itu, ada beberapa pemeriksaan lebih dalam jika seseorang memiliki masalah kesehatan lain atau dicurigai tertular saat di rumah sakit, yaitu:
- Tes gas darah arteri.
- Bronkoskopi.
- CT Scan.
- Kultur cairan pleura.
Baca Juga: Wikramawardhana, Raja Kelima Majapahit Memerintah Tahun 1389-1427 Masehi
Memang, pemeriksaan penunjang yang paling sering dilakukan adalah melalui pencitraan, yaitu foto rontgen dada. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter melihat lokasi dari infeksi yang terjadi. Selain itu, pemeriksaan laboratorium darah dilakukan untuk mengetahui organisme apa yang menyebabkan terjadinya infeksi. (owi/ian)






