Sidoarjo (beritajatim.com) – Sejak Januari sampai Mei 2023, kelompok dosen dan mahasiswa Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo) berkeliling ke desa-desa di Sidoarjo. Kelompok riset budaya yang dipimpin Joko Susilo ini mengamati dan menggali informasi Candi Dermo dan Prasasti Kamalagyan.
Kegiatan riset dilanjutkan dengan mewawancarai para tokoh pelaku budaya macapat: Paguyuban Jenggalamanik dan Paguyuban Sekarpalupi. Riset berupaya menggali karakter budaya Sidoarjo dengan mengapati warisan budaya yang merupakan peninggalan peradaban besar masa lalu.
Penelitian diawali dengan berkunjung ke Prasasti Kamalagyan yang terletak di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo. Tepatnya prasasti yang dituliskan di atas batu pada masa kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga tersebut berdiri di dusun Klagen.

Pada tahun 959 Saka atau 1037M prasasti Kamalagyan diciptakan untuk mengenang kesuksesan Raja Airlangga dalam memakmurkan dan memberikan ketenteraman bagi rakyat Kahuripan.
“Kami mengamati prasasti Kamalagyan dengan ditemani Ribut Wijoto ketua umum Dewan Kesenian Sidoarjo, berdirinya prasasti tersebut menunjukkan bahwa tanah Sidoarjo pernah menjadi wilayah paling mashur pada masa berdirinya negeri Kahuripan,” kata Joko Susilo, Senin (22/5/2023.

Selanjutnya para peneliti Umsida tersebut berkunjung ke Candi Dermo. Candi Dermo juga memperkuat identitas budaya Sidoarjo dikaitkan dengan kejayaan dan kebesaran Majapahit. Candi Dermo terbuat dari bata merah berbentuk gapura garuda padu raksa khas candi masa Majapahit.
Keberadaan candi Dermo berkaitan erat dengan penguasa keturunan Majapahit yaitu Raden Kusen Adipati Terung yang pemerintahannya berada di wilayah candi tersebut berdiri.

Terakhir penelitian dilakukan dengan wawancara dengan para pelaku budaya macapat. Ketika berjumpa dengan Paguyuban Jenggalamanik mereka mendapatkan karya-karya macapat yang diciptakan dengan mengambil kisah-kisah cerita rakyat Sidoarjo.
Ketika berjumpa dengan Paguyuban Sekarpalupi mereka mendapatkan tembang-tembang macapat yang ditembangkan dengan diiringi trebangan dan gender.
Empat produk budaya: Prasasti Kamalagyan, Candi Dermo, macapat berkisah cerita rakyat Sidoarjo, dan macapat yang diiringi trebangan dan gender tersebut sangat berpotensi menjadi identitas budaya Sidoarjo yang megah. [but]






