Blitar (beritajatim.com) – Beberapa murid di Kabupaten Blitar yang sudah menjadi perokok aktif. Mirisnya, perokok aktif itu ada yang masih usia 10 tahun atau usia murid Sekolah Dasar (SD).
Hal ini terungkap setelah Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar gencar melakukan screening rokok ke sejumlah sekolah di Bumi Penataran. Dalam screening ini, petugas Dinkes Kabupaten Blitar menggunakan alat bernama smoke analyzer.
Melalui alat ini maka dapat diketahui mana murid yang telah mengkonsumsi rokok secara rutin atau tidak. “Anak itu yang merokok sekitar usia 10-18 tahun,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar Anggit Ditya Putranto, Rabu (13/09/23).
Kondisi ini pun menjadi keprihatinan tersendiri. Selain menguras ekonomi orang tua, konsumsi rokok ini juga berbahaya bagi kesehatan paru-paru anak-anak. Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar sendiri tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi terhadap anak dan orang tua, untuk menghindari rokok diusia dini.
“Kami masif melakukan sosialisasi dibantu temen-temen puskesmas, sosialisasi berhenti merokok,” ungkapnya.
Secara keseluruhan angka perokok aktif di Kabupaten Blitar terus naik setiap tahunnya. Bahkan saat ini jumlah perokok aktif di Bumi Bung Karno mencapai 220 ribu orang. Artinya ada 18,4 persen penduduk di Kabupaten Blitar merupakan perokok aktif.
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyebut jumlah perokok pasif disinyalir terus naik setiap tahun, baik dari gender laki-laki maupun perempuan. Dari data ini, sebagian diketahui masih anak usia sekolah atau pelajar.
“Jadi populasi kita ada 18,4 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 220 ribu warga merokok aktif,” imbuhnya.
Dalam kasus ini Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar tidak membeda-bedakan perokok elektrik maupun tembakau. Yang masuk dalam data ini adalah perokok aktif baik elektrik maupun tembakau.
BACA JUGA:
Pailit, Utang Pabrik Rokok Bokor Mas Blitar Hampir Rp800 M
Tingginya persentase perokok aktif di Kabupaten Blitar membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk melakukan upaya promotif, preventif akan bahaya merokok, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan merubah perilaku masyarakat.
“Sosialisasi sudah dan terus dilakukan namun perlu juga adanya kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok untuk kesehatan,” tutupnya. [owi/but]






