Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 30 mahasiswa Singapore Polytehnic bakal berkolaborasi dengan mahasiswa UM Surabaya dalam program KKN Learning Expres (Lex) di pesisir Paciran, Lamongan.
Kepala LPPM UM Surabaya Dede Nasrullah mengatakan, KKN Lex ini kali pertama dilakukan pihaknya bersama mahasiswa Singapore Polytehnic. Nantinya, ada tiga fokus permasalahan yang bakal mereka garap.
“Pertama, terkait keselamatan kerja petani siwalan dan pengrajin batik. Kedua, produk ramah lingkungan, dan peningkatan produktivitas petani,” kata Dede usai pembukaan KKN Lex, Senin (25/9/2023).
Baca Juga: Jabatan Berakhir: Mundjidah Balik ke Pesantren, Sumrambah Kembali ke Sawah
Ia mengungkapkan, kondisi petani siwalan di pesisir Paciran perlu diperhatikan karena ada kaitannya dengan keselamatan kerja. Apalagi, mayoritas dari mereka sudah berusia lanjut, dan harus tetap memanen.
Sementara soal produk ramah lingkungan dan peningkatan produktivitas petani, nantinya mahasiswa akan terjun dan memberikan solusi terkait bagaimana memanfaatkan sesuatu hingga menjadi barang bernilai.
“Mahasiswa nanti bekerjasama bagaimana memanfaatkan sesuatu yang tidak memiliki nilai menjadi barang yang memiliki nilai jual, salah satunya kulit siwalan yang selama ini tidak dimanfaatkan,” ungkap Dede.
Baca Juga: 40 Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan Tandatangani Pakta Integritas
Di sana, mereka juga akan menggarap peningkatan produktivitas Batik Sendangagung. Dede berharap, 61 mahasiswa itu bisa menghasilkan prototype alat bantu, khususnya bagi petani siwalan dan pengrajin batik.
Sedangkan Cyrine Jossa, Dosen Pendamping Singapore Polytehnic mengaku haru atas sambutan yang diberikan oleh tim dari UM Surabaya. Kata dia, kebudayaan Indonesia otentik dan unik.
Ia juga merasa terhibur, bahkan 30 mahasiswa asal Singapore yang ia damping juga mengaku takjub atas penampilan-penampilan yang dipentaskan oleh para mahasiswa UM Surabaya.
Baca Juga: Satu Orang Tewas, Polres Malang Periksa Kades dan Panitia Karnaval Maut
Cyrine berharap kegiatan KKN Lex ini dapat menghasilkan produk sustainable. Artinya, barang ramah lingkungan dalam proses produksi maupun konsep bisnisnya dengan tidak mengabaikan isu-isu lingkungan.
Untuk diketahui, Learning Express adalah program luar negeri selama 12 hari yang membekali mahasiswa dengan pola pikir design thinking dalam konteks inovasi sosial. Dalam program ini, mahasiswa bisa menikmati pengalaman di luar buku teks seperti belajar bahasa baru dan mengikuti homestay komunitas.
Mahasiswa dapat berinteraksi dan membangun persahabatan dengan pemuda dari Asia dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah yang dihadapi komunitas luar negeri. [ipl/ian]






