Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa ITS Buat Rancangan Gedung Karantina Ideal

Surabaya (beritajatim.com) – Tempat perawatan dan karantina bagi pasien Covid-19 menjadi unit yang sangat krusial di masa pandemi ini. Tidak hanya kuntitas atau besar kecilnya lahan tetapi juga kualitas bangunan dan fasilitas. Oleh karenanya, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas rancangan bangunan dengan konsep ideal untuk karantina selama pandemi berlangsung sekaligus berkelanjutan dengan nama Among Raga.

Among raga merupakan bangunan 42 lantai rancangan tim mahasiswa ITS yang terdiri dari Nathanael Christopher Sutopo, Ihza Hafiz Driatama, Adhiasa Putra Hadjar (Departemen Teknik Sipil), Muh Ammar Al Farrosi (Departemen Arsitektur), dan Tsaqova Muhammad Syahavista Ahtajida (Departemen Teknik Fisika).

Among Raga sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti Merawat Tubuh, sesuai dengan konsep karantina yang digunakan. Desain yang diterapkan merupakan pencerminan kearifan lokal dari masyarakat Asia Tenggara yaitu gotong royong. “Pandemi ini bisa dilalui dengan bekerja sama untuk menjaga sesama dengan menjaga diri, setiap orang itu bisa among raga,” ungkap Nathanael Christopher Sutopo, ketua tim.

Menurut mahasiswa yang akrab disapa Nathan ini, Among Raga mematahkan stigma masyarakat terhadap karantina yang terkesan membosankan, terkurung, serta tidak produktif. Mengusung konsep open space, bangunan ini tentunya akan mendukung kesejahteraan para penghuni terutama yang reaktif atau positif Covid-19. “Bangunan karantina didesain dengan sistem dan fasilitas yang memadai. Bukan hanya untuk mencegah penyebaran, tetapi juga untuk efek psikologis,” jelas pemuda kelahiran tahun 2000 ini.

Among Raga, lanjut Nathan, selain sebagai tempat hunian juga dilengkapi dengan fasilitas Intensive Care Unit (ICU) untuk penghuni yang didapati reaktif atau bahkan positif Covid-19. Sistem ventilasi di unit ICU akan menerapkan ruangan dengan tekanan rendah. Sehingga arus udara akan bisa dikontrol untuk menjauhi tempat yang kemungkinan tinggi bagi virus tersebut menyebar.

Selain namanya, desain dari bangunan ini yang berupa double skin layer pada fasad pun diambil dari buah yang banyak beredar di Asia Tenggara yaitu buah Salak. Desain ini berguna untuk memaksimalkan pemanfaatan sinar matahari dan sirkulasi alami dari angin. Pada layer terluar dipasang panel surya sebagai produksi energi untuk bangunan, sekaligus sebagai pemecah angin serta memberikan keteduhan pada penghuni gedung.

Melanjutkan penjelasannya, Nathan menambahkan, sistem panel surya ini memiliki kegunaan lainnya. Saat hujan, panel surya akan berputar secara hidrolis sehingga dapat menangkap air hujan dan mengalirkannya ke ramp yang ada di bawahnya. “Sehingga dengan ini, dapat meningkatkan rainwater catchment dari gedung ini,” ujar mahasiswa angkatan 2018 ini.

Masih pada rainwater catchment, sistem ramp memiliki peran besar. Air dari solar panel akan masuk ke ramp yang dibangun pada bagian luar gedung. Pertama, air akan masuk ke lapisan rumput yang ada pada ramp, kemudian turun ke saluran penampungan air yang ada di bawah lapisan tersebut. Air hujan yang ditampung ini bersama dengan grey water akan disterilisasi dengan sistem yang menyertakan sinar UV, kemudian digunakan untuk air siraman pada flushing toilet dan irigasi tanaman.

Mahasiswa asal Jakarta ini menambahkan bahwa selain untuk water catchment, sistem ramp juga berguna untuk kesehatan para penghuni baik fisik maupun mental. Lebar dari ramp sudah didesain pas untuk jalur jogging bagi para penghuni. Ramp juga berfungsi sebagai jalur penghuni untuk berpindah antar lantai agar mengurangi penggunaan lift.

“Kami berharap penghuni gedung dapat tetap berolahraga secara normal di gedung kami. Dengan berada di luar, ramp memberikan kesan terbuka untuk kesehatan mental penghuni,” tuturnya.

Tak hanya desain, menurut Nathan, material yang rencananya akan digunakan pada bangunan ini pun adalah material hasil daur ulang berupa semen slag yang merupakan limbah dari industri besi. Berdasarkan hasil pengamatan daerah yang direncanakan yaitu Pantai Indah Kapuk, Jakarta Selatan, semen slag bisa didapatkan dari pabrik besi terdekat yang masih berada pada radius jangkauan.

Dengan desain dan perencanaan ini, Nathan dan timnya berharap dapat menciptakan bangunan yang bisa berfungsi secara maksimal, dan juga memberikan dampak negatif yang minimum pada lingkungan. Sebagai bangunan dengan konsep karantina ideal, bangunan ini menawarkan fasilitas yang memadai agar para penghuni dapat tetap produktif, dan menjaga diri selama masa pandemi ini.

Tak tanggung-tanggung, rancangan Among Raga ini pun telah berhasil meraih juara 3 pada ajang berskala internasional 1st International Student Competition on Tall Building Design yang diadakan oleh Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, mulai Oktober hingga November 2020 lalu. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar