Malang (beritajatim.com) – Komisi 3 DPRD Kabupaten Malang menyayangkan aksi demo yang dilakukan ratusan siswa-siswi SMA Negeri 1 Turen.
Aksi unjuk rasa itu tidak bakal terjadi jika Kepala SMA Negeri 1 Turen tidak arogansi dan memahami karakter para siswa.
Komisi 3 DPRD Kabupaten Malang meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk segera menindaklanjuti masalah ini. Dindik harus memanggil dan mengevaluasi Kepala SMA Negeri 1 Turen.
“Masalah ini nantinya juga akan kami sampaikan kepada anggota DPRD Provinsi Jatim. Supaya meminta Dindik Provinsi Jatim untuk segera melakukan evaluasi. Karena lembaga pendidikan SMA berada di bawah naungan Dindik Provinsi Jatim,” ungkap Zia Ulhaq, Anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Malang, Selasa (18/10/22).
Zia menilai, ketika ada aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh siswa-siswi, maka ada yang tidak beres di sekolah. Jika masalah ini dibiarkan, maka akan ada ketidaknyamanan para siswa di sekolah ketika menuntut ilmu pelajaran.
Terkait dengan sikap Kepala SMA Negeri 1 Turen yang mempersoalkan siswi perempuan tidak salat karena berhalangan, dianggap sangat tidak etis. Apalagi sampai memeriksa secara dalam, untuk memastikan apakah siswi tersebut berhalangan atau tidak.
“Kalau itu memang benar, maka apa yang dilakukan Kepala Sekolah tidak etis. Ia yang seharusnya mencontohkan sopan santun, malah melakukan seperti itu,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”sma-turen-malang”]
Soal tuntutan Kepala Sekolah yang meminta siswa-siswinya harus menjuarai setiap event perlombaan, seharusnya tidak dilakukan. Kasek harus mengerti batas kemampuan para siswa.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan siswa-siswi SMA Negeri 1 Turen melakukan aksi demo di sekolah, Senin (17/10/22). Para siswa menuntut Kepala Sekolah mereka, Eny Dwi Retnowati mundur atau di mutasi.

Alasan siswa karena Kepala SMA Negeri 1 Turen dinilai arogan. Siswa demo dengan membentangkan beberapa poster yang bertuliskan kecaman.
Diantaranya, orang arogan tidak pantas pimpin kami. Turunkan Bunda. Stop Intimidasi. Kami disini untuk di didik bukan dikebiri prestasi.
Salah satu siswa mengatakan, bahwa demo ini karena menilai Kepala Sekolah arogan dan anti kritik. Kepala Sekolah juga selalu menuntut siswa selalu menjadi juara satu setiap kali ikut event perlombaan.
“Selain itu, siswa perempuan yang tidak salat Duha setiap hari Jumat, selalu dicek apakah betul berhalangan atau tidak. Mengeceknya tidak manusiawi, karena melihat langsung apakah memakai pembalut atau tidak,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Turen, Eny Dwi Retnowati menuturkan, dihadapan siswa sebagai perwakilan saat audensi bersama Muspika usai demo, pihaknya mengemban amanat Kepala Sekolah dari Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.
“Saya mengemban amanah dari Dinas Pendidikan Jawa Timur sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Turen definitif. Dan juga Kepala Sekolah SMA Negeri Bululawang Plt. Jadi yang berhak memutasi saya bukan kalian (Siswa-red), tapi dinas pendidikan Jawa Timur,” tegas Eny. (yog/ted)






