Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Ketua STKIP PGRI Ponorogo: Menjadi Guru Itu Selayaknya Juru Masak

Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Sutejo (Foto/ Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com)- Menjadi seorang guru tidak sekadar pandai secara keilmuan. Lebih jauh, guru sebagai sosok motivator, pendamping, dan juga pengembala untuk membawa siswa cerdas secara akademik dan moralitas. Melihat peran guru yang tidak mudah, sebagai mahasiswa keguruan di STKIP PGRI Ponorogo, para mahasiswa harus mengikuti pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke-2.

Ya, PPL 1 atau yang pertama dilakukan praktik mengajar di micro teaching di laboratorium mengajar di kampus. Praktik mengajar dilakukan di enam sekolah yang tersebar di wilayah Ponorogo. Yakni di satuan pendidikan dari lingkup SMP, SMA, SMK, MA, dan Taman Kanak-Kanak. Kebetulan di Kampus Literasi juga terdapat jurusan PG-PAUD.

Pembekalan ini diharapkan menjadi pintu mahasiswa untuk menyiapkan kembali materi sebelum mengajar sesungguhnya di sekolah. Praktik Pengalaman Lapangan selama dua tahun berbeda dibandingkan tahun ini. Karena Pandemi mengharuskan seluruh kegiatan dilakukan di rumah.


“Sekarang menjadi waktu yang tepat, dan beruntung bisa langsung terjun ke sekolah. Pasti nanti hasilnya berbeda,” kata Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Sutejo, Rabu (27/7/2022).

Sutejo tidak menampik bahwa dirinya mengalami keresahan dua tahun terakhir. Sebab mahasiswanya tidak bisa menjalani PPL secara langsung akibat adanya pandemi Covid-19. Baginya, dengan terjun ke sekolah akan menjadi pengalaman nyata dibandingkan melalui jaringan lewat aplikasi seperti zoom.

Karena praktik di sekolah langsung, mahasiswa akan mampu mengukur tingkat kemampuan juga sekaligus belajar. Sutejo, mencontohkan seorang guru ibarat juru masak. Ia tidak saja menyajikan makanan, melainkan memberikan pelayanan, dan perjamuan yang mengesankan. “Ingat, tugas guru itu membuat siswa bergairah ketika berada di kelas. Menjadi guru Itu selayaknya juru masak,” terangnya.

Ia berharap di sekolah nantinya, para mahasiswa bisa memaksimalkan potensi para siswa lalu memolesnya. Ketika ada yang suka menulis misalnya, paling tidak, mendampingi dan mengarahkan agar terus berkarya. Tidak saja itu, bagi mahasiswa yang punya potensi misalnya nembang Jawa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, juga bisa menularkan kepada siswa yang diajar. “Kita sebagai kampus literasi, harus menularkan hal itu,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua 1 bagian akademik, Adib Arifin. Menurutnya, dengan adanya PPL 2 ini, akan mengetahui kondisi riil di lapangan (sekolah). Bagaimana mengelola kelas, mendampingi siswa juga menguasai materi pembelajaran. “Tentunya berbeda kondisi di bangku perkuliahan dengan langsung bertemu siswa,” pungkas Adib Arifin. [end/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev