Surabaya (beritajatim.com) – Yusuf Masruh, Kadindik Surabaya mengakui ada perubahan nilai PPDB SMP 2023. Namun, perubahan itu masih sah karena pendaftaran PPDB SMP 2023 jalur Prestasi Non Akdemik saat itu belum ditutup.
Dihubungi Beritajatim, Yusuf mengakui jika memang ada perubahan nilai. Namun, perubahan itu dilakukan usai kedua orang tua dari dua anak yang nilainya berubah melakukan validasi sertifikat prestasi non akademik.
“Hari Senin (19/06/2023) pukul 10.30 itu orang tua kedua murid ke kantor Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk validasi,” ujar Yusuf, Jumat (30/06/2023).
Validasi dilakukan karena adanya kesalahan input. Data awal yang menyebutkan juara 3 kota Surabaya, ternyata peserta didik mendapatkan juara 1. Sehingga perubahan nilai dilakukan. Menurut Yusuf, selama proses pendaftaran belum ditutup, semua mempunyai hak yang sama untuk melakukan validasi.
“Penutupannya kan tanggal 20 itu. Selama pelaksanaan masih boleh. Kalau sudah ditutup baru ga boleh (perubahan nilai). Selama pendaftaran masih buka semua diberi hak yang sama (untuk validasi),” imbuh Yusuf.
Dari data yang dikumpulkan oleh Dinas Pendidikan Surabaya, kedua murid yang nilainya berubah tersebut akhirnya juga tidak diterima di SMPN 19 Surabaya.
Sebelumnya diberitakan beritajatim.com, Didik Sutrisno (46) warga Kenjeran heran dengan sistem penerimaan jalur prestasi PPDB Surabaya lantaran ia mendapati perubahan nilai pada menit terakhir walaupun dengan nama yang sama.
Diwawancarai Beritajatim.com, Didik Sutrisno mengatakan jika ia mendaftarkan anaknya DJ ke SMPN 19 Surabaya lewat jalur prestasi non akademis Pada Minggu (18/06/2023) pukul 11 malam. Dia melihat jika anaknya ada di peringkat 32 dari total 34 siswa yang diterima lewat jalur prestasi.
“Dengan nilai 2.7 anak saya ada di peringkat 32. Ada dua anak yang rankingnya di bawah anak saya dengan nilai sama,” ujar Didik, Selasa (27/06/2023).
BACA JUGA:
Nilai PPDB Surabaya 2023 Tiba-tiba Berubah di Menit Akhir
Namun, pada hari Senin (19/06/2023) dua anak yang sebelumnya memiliki point 2.7 tiba-tiba nilainya berubah menjadi 2.9. Perubahan nilai itu membuat putra Didik Sutrisno tergeser dan berakhir tidak diterima di SMPN 19 Surabaya.
“Nilai berubah menjelang penutupan. Ini kan aneh. Saya hanya berharap mendapatkan penjelasan. Jangan karena kami ini keluarga tidak mampu maka kami bisa dipermainkan seperti ini,” imbuh Didik. [ang/but]






