Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Gubernur Jatim Khofifah Minta Kepala Daerah di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik Percepat Vaksinasi

Khofifah saat meninjau vaksinasi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Jalan Mojopahit Sidoarjo yang diikuti masyarakat dan mahasiswa Selasa (10/8/2021).

Sidoarjo (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta kepada Bupati Sidoarjo, Walikota Surabaya dan Bupati Gresik atau tiga wilayah aglomerasi, bersama sama mempercepat vaksinasi.

Permintaan itu disampaikan oleh Khofifah saat meninjau vaksinasi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Jalan Mojopahit Sidoarjo yang diikuti masyarakat dan mahasiswa Selasa (10/8/2021).

“Tidak bisa, kalau vaksinasi di Surabaya sudah melampaui 70 persen, lalu Sidoarjo, dan Gresik tidak digenjot gak bisa. Ini harus jadi satu, pendekatannya karena daerah ini merupakan aglomerasi,” kata Khofifah.

Ia memaparkan, bahwa ada strong partnership diantara seluruh ikhtiar untuk membangun kehidupan yang sehat, masyarakat bisa terlindungi dari kemungkinan terpapar Covid-19.

Distribusi vaksin yang diterapkan Pemprov Jatim adalah FIFO system, First In First Out. Apabila vaksin dikirim, maka langsung vaksin itu didistribusikan ke kabupaten kota, dan secepatnya diberikan kepada masyarakat.

Khofifah saat meninjau vaksinasi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Jalan Mojopahit Sidoarjo yang diikuti masyarakat dan mahasiswa Selasa (10/8/2021).

“Maka jikalau berkenan, kalau sekarang ada 5000 dosis, saya rasa hari ini kita bisa nambah 5000 dosis lagi. Supaya percepatan bisa kita lakukan Pak Rektor,” kata Khofifah.

Oleh karena itu, sambung Ketua Umum PP Muslimat itu, semua elemen-elemen yang menjadi penguat percepatan vaksinasi, sangat dibutuhkan. Diantaranya adalah TNI, Polri, Perguruan Tinggi, dan Pondok Pesantren,” terang Khofifah.

Sementara itu, Rektor Umsida, Hidayatullah berharap, dengan melakukan vaksinasi, pandemi Covid-19 ini cepat terkendali. Sehingga seluruh dosen dan mahasiswa dalam keadaan kondusif untuk memulai kuliah offline.

“Kita berencana tahun akademik 2021-2022, itu bisa memanfaatkan perkuliahan secara hybrid learning,” harap Hidayatullah

Menurut Hidayatullah, berdasarkan evaluasi perkuliahan secara daring atau online selama 1,5 tahun ini, dinilainya kurang efektif. Terlebih bagi mahasiawa dengan mata kuliah praktikum.

“‘Karena kita mengevaluasi satu tahun setengah berjalan ini, semua merasakan sangat kurang efektif ya, apalagi mereka yang harus praktikum di kampus,” pungkas mantan Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah itu. (isa/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar