Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Ngaji Nulis

Diharapkan Muncul Penulis Baru dari Kampus Literasi

Sutejo dan Peni Nurhidajati saat memberikan materi literasi di program Ngaji Nulis. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – STKIP PGRI Ponorogo mentahbiskan diri menjadi kampus literasi Indonesia. Hal tersebut dinilai tidak terlalu berlebihan, mengingat banyaknya kegiatan literasi yang sudah dilakukan perguruan tinggi yang beralamat di jalan Ukel Kelurahan Kertosari nomor 39 Kecamatan Babadan Ponorogo tersebut.

Mulai kegiatan Hibah 10.000 buku, sekolah literasi gratis, muhibah literasi ke sekolah dan kemah literasi. Yang terbaru adalah program Ngaji Nulis. “Ngaji Nulis ini program terbaru kampus. Rencananya diadakan setiap satu minggu sekali,” kata Ketua STKIP PGRI Ponorogo Sutejo, Jumat (1/10/2021).

Ngaji Nulis, kata Sutejo, merupakan kegiatan kajian nulis, diskusi, dan berbagi pengalaman terkait dunia kepenulisan. Dalam pelaksanaan ke depan, mahasiswa akan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu fiksi dan non-fiksi. Melalu kegiatan ini, diharapkan melahirkan penulis-penulis baru. Selain menjadi guru nantinya, mahasiswa sedari di bangku kuliah diharapkan memiliki keterampilan menulis.

“Ngaji Nulis berjargon Berkarya Melukis Pesona. Semoga lahir penulis-penulis baru di kegiatan literasi ini,” kata Sutejo, yang tahun ini mendapatkan penghargaan dari Beritajatim.com sebagai tokoh inspirasi Jawa Timur di bidang literasi.

Dalam kegiatan perdana ini, pemateri mendatangkan Peni Nurhidajati dan Sutejo sendiri. Keduanya adalah penulis nasional dari Ponorogo. Peni Nurhidajati yang juga alumni STKIP PGRI Ponorogo merupakan penulis dari bumi reyog yang sudah menerbitkan buku 7 judul dan menjuarai lomba tingkat nasional sebanyak 6 kali. “Menulis butuh keinginan yang kuat, guru menulis, dan komunitas menulis,” kata Peni.

Di depan peserta Ngaji Nulis, Peni mengungkapkan pengalamannya menulis terbantu oleh orang-orang yang bergelut di dunia menulis. Salah satunya adalah Sutejo, yang dulu pernah menjadi dosennya. Peni mengajarkan menulis berbasis pengalaman. Seperti tulisannya Hidup Bersama Suku Dani adalah pengalamannya menjadi tenaga pengajar di Papua.

Sementara itu, Sutejo membagikan resep-resep menulis, salah satunya dengan tekun mengamati realita sosial. Dia juga memotivasi mahasiswanya bahwa dirinya bisa hidup dengan menulis. Pengalamannya yang bergelut dengan menulis, membuatnya bersaksi bahwa tidak ada profesi lain yang bisa mengubah hidup kecuali menulis. “Saya bisa hidup dengan menulis,” pungkasnya. [end/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar