Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Cakupan Vaksinasi Belum 50 Persen, PPKM Jember Level 3

Pelaksana Tugas Kepala Dinkes Jember Lilik Lailiyah (tengah)

Jember (beritajatim.com) – Cakupan vaksinasi yang belum maksimal membuat level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dari Level 2 ke Level 3. Penurunan level ini ditegaskan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2021.

Jumlah kasus Covid yang dirawat di rumah sakit sebenarnya rendah. Namun, Jember tersandung indikator capaian vaksinasi. “Pencapaian kita masih belum 50 persen. Vaksinasi total dosis 1 kurang dari 50 persen dan capaian vaksinasi lansia kurang dari 50 persen,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember Lilik Lailiyah, Selasa (5/10/2021).

Satuan Tugas Covid-19 selama ini berusaha agar capaian vaksin Covid-19 bisa maksimal. Namun hingga saat ini capaian vaksin dosis pertama baru 26,53 persen dari target 1,9 juta penerima vaksin. “Terpaksa kita harus menerima Jember turun dari level dua ke level tiga,” kata Lilik.

Ada empat faktor yang harus diperhatikan semua pihak agar capaian vaksinasi bisa 50 persen. “Pertama, ketersediaan vaksin. Hari ini ketersediaan vaksin kami masih ada 29.054 dosis dan itu semua sudah terjadwal hari ini. Besok baru kami berangkat mengambil vaksin ke provinsi. Alhamdulillah, kami menembus beberapa jalur. Jalur dinas provinsi, jalur TNI yang hari ini kami mendapatkan bantuan lima ribu dosis yang diperuntukkan khusus pekerja di PTPN XII, dan dari Polri kami mendapat lima ribu dosis,” kata Lilik.

Kedua, faktor vaksinator. “Karena kami percepatan, kami upayakan penambahan vaksinator. Bukan hanya tukang suntik, karena kami perlu juga pencatatan real time ke pusat. Sehingga ada satu tim tersendiri. Kami ada tambahan merekrut relawan. Relawan yang kami tugasi di Isolasi Terpusat, karena sudah tidak ada pasien di sana, kami alihkan jadi vaksinator. Ada lagi tambahan dua klinik PMI dan PPMI yang sebelumnya belum ikut, akan ikut dalam pelaksanaan vaksinator,” kata Lilik.

Faktor ketiga, sasaran. “Kita sudah bergerak. Kalau di kota Anda lihat di sentra-sentra vaksinasi sudah banyak (warga yang melakukan vaksinasi) dan pasti antre. Tapi ada beberapa daerah yang kami sebut daerah redup, yang kesadaran masyarakat kurang. Ini perlu sentuhan semua elemen. Kami juga sudah dibantu organisasi-organisasi profesi dan politik di kabupaten,” kata Lilik.

Lilik mengatakan, mungkin perlu strategi bersama yang akan dilakukan. “Kita tidak statis di fasilitas kesehatan, tapi jemput bola. Ada surat edaran bupati yang mengharuskan kepala desa, lurah, dan camat untuk proaktif mencari sasaran. Puskesmas berkoordinasi dengan babinsa dan bhabinkamtibmas serta RT-RW, lurah, kepala desa, dan camat untuk proaktif,” katanya.

“Sasaran beberapa wilayah sudah masuk kepada kami, by name dan by address, dan ini akan kami tindaklanjuti dengan gropyokan. Bukan hal yang berlebihan kalau bupati menginstruksikan agar setiap perangkat desa harus bisa mengusahakan seratus orang sasaran per hari,” kata Lilik.

Upaya lain dalam meningkatkan sasaran adalah berfokus pada warga lanjut usia dan institusi pendidikan yang sangat penting dalam persiapan pembelajaran tatap muka. “Vaksin Sinovac yang sudah ada kami fokuskan kepada anak didik. Sementara AstraZeneca kami arahkan kepada masyarakat. Jadi sekali dayung kami meningkatkan cakupan dan untuk persiapan pembelajaran tatap muka,” kata Lilik.

Dinkes Jember juga menyosialisasikan aplikasi Peduli Lindungi. “Sebenarnya di fasilitas-fasilitas umum seharusnya sudah ada aplikasi itu. Sekarang yang sudah melaksanakan adalah Lippo Plaza,” kata Lilik.

Faktor keempat, sistem pelaporan. Ada perbedaan antara laporan manual dengan laporan yang tercatat di aplikasi pelaporan online Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). Nomor induk kependudukan warga yang sudah divaksin ternyata tidak bisa dimasukkan dalam aplikasi pelaporan. “Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Lilik.

Sebenarnya persoalan ini bisa diadukan ke nomor layanan 119. “Tapi 119 ternyata responsnya kurang cepat. Mungkin satu dua hari baru bisa. Ada beberapa yang belum terselesaikan,” kata Lilik.

Selain itu, Dinkes membuat aplikasi bersama dengan kepolisian resor dan Universitas Jember. “Ini untuk mempermudah bagaimana sistem pelaporan kami pantau dengan aplikasi kami sendiri, sehingga kami bisa sampaikan ke pusat tentang sasaran yang sudah kami capai tapi belum masuk ke KPCPEN,” kata Lilik.

Pemkab Jember berusaha mencapai herd immunity sebagai persiapan menghadapi kemungkinan gelombang ketiga ‘tsunami’ Covid. “Kalau menunggu sampai Desember 2021, kita tidak bisa gambling. Takutnya seperti periode kedua kemarin. Mudah-mudahan ini tidak terjadi,” kata Lilik. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar