Surabaya (beritajatim.com) – Data Riskesdas tahun 2018 menyebut bahwa prevalensi hipertensi di Jawa Timur mencapai angka 36,32 persen. Jumlah ini, membuat Jatim menduduki peringkat keenam dengan kasus hipertensi terbanyak.
“Jawa Timur kita temukan sudah 30 persen hipertensi di Masyarakat. Kenapa kita sangat fokus ke hipertensi, masalahnya bukan hipertensinya, tapi akibat dari hipertensi bisa merusak organ tubuh lain. Bisa pada jantung, ginjal dan otak,” ujar dokter spesialis penyakit dalam Dr Pranawa, Rabu (3/5/2023).
Ia juga mengatakan, bahwa sekitar 35 persen penyebab orang jatuh ke cuci darah disebabkan oleh hipertensi. Karena itu, menurutnya diperlukan adanya langkah deteksi ini. “Maka deteksi dini hipertensi sangat penting sekali,” katanya.
Di Jatim sendiri, Dinas Kesehatan Provinsi meluncurkan aplikasi deteksi dini hipertensi bernama E-DESI. Dengan aplikasi ini, diharapkan nantinya penemuan kasus dapat berbasis kemandirian dari masyarakat.
“Tantangan kita selama ini adalah bagaimana cara menemukan kasus terutama untuk hipertensi. Karena kita tahu bahwa hipertensi masih menjadi momok di masyarakat,” kata Kadinkes Jatim dr Erwin Astha Triyono.
Sementara ini, kata dia, aplikasi E-DESI masih di-setting untuk masyarakat Sidoarjo saja. Tentunya, ke depan juga akan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.
“Dengan aplikasi sederhana itu, diharapkan mereka mau mengisi. Kalau sudah mengisi, ternyata terbukti punya kecenderungan penyakit hipertensi maka di situ ada edukasi untuk didorong masuk ke sistem supaya mereka mengakses layanan kesehatan yang ada,” jelas Erwin.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/hipertensi-bisa-serang-remaja-masyarakat-dihimbau-waspadai/
Ia mewanti, agar masyarakat lebih peduli dengan melakukan deteksi dini hipertensi. Sebab, hipertensi mampu menggandeng penyakit lain seperti ginjal, stroke hingga jantung alias komplikasi. “Nanti pengobatannya jauh lebih rumit,” katanya.
Sehingga, lanjut Erwin, diharapkan nanti dengan adanya deteksi dini ini kasus hipertensi lebih awal terdeteksi dan pengobatannya lebih sederhana. Artinya, diharapkan hal itu dapat mencegah terjadinya komplikasi lebih berat.
“Kunci dari aplikasi ini adalah merubah paradigma. Pasti butuh waktu. Dalam tanda kutip, kalau paradigma bisa dibuat dan masyarakat lebih paham, harusnya percepatan penemuan kasus lebih baik lagi,” tandasnya. [ipl/but]






