Ringkasan Berita:
- Penarik becak listrik di kawasan Makam Bung Karno Blitar mengeluhkan belum adanya SPKLU gratis.
- Saat ini mereka masih mengandalkan colokan listrik di fasilitas umum untuk mengisi daya baterai.
- Bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo dinilai sangat membantu operasional dan mengurangi beban fisik.
- Para penarik becak berharap pemerintah dan PLN segera menyediakan fasilitas pengisian daya khusus.
Blitar (beritajatim.com) – Program modernisasi armada wisata berbasis energi ramah lingkungan di kawasan Wisata Religi Makam Bung Karno (MBK) Blitar mulai menghadapi tantangan di lapangan. Meski bantuan becak listrik (Belis) dari Presiden Prabowo Subianto disambut antusias para penarik becak, mereka kini berharap pemerintah segera menghadirkan fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) gratis yang mudah diakses.
Hingga kini, para penarik becak mengaku masih kesulitan menemukan titik pengisian daya yang diperuntukkan khusus bagi armada becak listrik di sekitar kawasan wisata Makam Bung Karno. Padahal keberadaan fasilitas tersebut dinilai sangat penting untuk menunjang operasional sehari-hari, terutama saat kunjungan wisatawan meningkat.
Jari, salah satu penarik becak yang menerima bantuan armada ramah lingkungan tersebut, mengaku harus mencari alternatif tempat pengisian daya agar becaknya tetap bisa beroperasi mengangkut wisatawan.
Menurutnya, selama ini ia memanfaatkan colokan listrik yang tersedia di fasilitas umum karena belum tersedia SPKLU khusus bagi penarik becak listrik.
“Selama ini kalau habis baterai ya saya ngecas di colokan listrik di area Museum PETA ini. Kalau ada SPKLU yang gratis kan lebih enak,” tutur Jari, Selasa (23/06/2026).
Bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo dinilai membawa banyak manfaat bagi para penarik becak yang sebagian besar sudah tidak lagi berusia muda. Selain mengurangi beban fisik saat bekerja, armada tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan energi bersih di sektor transportasi wisata.
Namun, para penarik becak menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada bantuan armada, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Tanpa fasilitas pengisian daya yang mudah dijangkau, mereka khawatir operasional becak listrik tidak berjalan maksimal.
Kekhawatiran itu semakin besar saat memasuki musim liburan ketika jumlah wisatawan meningkat. Mereka takut kehilangan peluang pendapatan jika baterai habis di tengah jam operasional dan harus mencari lokasi pengisian daya yang tersedia.
“Ya kan apa lagi ini musim liburan, jumlah wisatawan banyak, masa kalau baterai habis harus pulang belum lagi di rumah itu belum tentu juga kuat untuk mengecas batre becak listrik kalau lampu semua masih nyala,” tegasnya.
Para penarik becak di kawasan Makam Bung Karno berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Kota Blitar melalui dinas terkait, seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Pariwisata, dapat segera merespons kebutuhan tersebut. Mereka juga berharap ada kerja sama dengan PLN untuk menyediakan SPKLU gratis atau bersubsidi yang dikhususkan bagi armada becak wisata.
Menurut mereka, keberadaan SPKLU tidak hanya membantu mengurangi biaya operasional, tetapi juga memastikan bantuan becak listrik dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, program transportasi wisata berbasis energi bersih di Kota Blitar diharapkan mampu berjalan lebih efektif sekaligus meningkatkan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Makam Bung Karno. [owi/beq]






