Jember (beritajatim.com) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan penyelesaian revitalisasi 16.167 satuan pendidikan di seluruh Indonesia yang telah rampung seratus persen sepanjang tahun 2025. Peresmian nasional ini dipusatkan di SMP Negeri 1 Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagai simbol keberhasilan penguatan infrastruktur pendidikan di tingkat daerah.
Program revitalisasi ini merupakan salah satu mandat prioritas Presiden untuk memastikan kualitas fasilitas belajar mengajar yang layak bagi siswa. Keberhasilan target tahun 2025 menjadi landasan bagi pemerintah untuk melanjutkan program serupa dengan jangkauan yang lebih luas pada periode mendatang.
“Ini bagian dari program prioritas Bapak Presiden. Alhamdulillah sudah selesai seratus persen,” kata Mu’ti, usai peresmian revitalisasi satuan pendidikan Kabupaten Jember yang dipusatkan di SMP Negeri 1 Balung, Sabtu (21/2/2026).
Pada tahun berjalan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah mengalokasikan anggaran untuk revitalisasi tambahan sebanyak 11.470 satuan pendidikan. Namun, melihat urgensi kebutuhan di lapangan, pemerintah tengah mengupayakan lonjakan target hingga 60.000 sekolah untuk tahun 2026.
Langkah ini diambil guna mempercepat pemerataan kualitas gedung sekolah di berbagai pelosok tanah air. Saat ini, koordinasi intensif terus dilakukan dengan lembaga legislatif untuk memastikan ketersediaan ruang fiskal bagi puluhan ribu sekolah tersebut.
“Kami sedang minta tambahan anggaran kepada Kementerian Keuangan melalui Komisi X DPR RI,” kata Mu’ti.
Pemerintah menargetkan seluruh proses revitalisasi sekolah di Indonesia dapat tuntas sebelum tahun 2029. Untuk mewujudkan hal tersebut, sistem pengajuan kini dilakukan secara digital melalui mekanisme verifikasi dan validasi daring bagi sekolah-sekolah yang memerlukan perbaikan sarana dan prasarana.
Perubahan signifikan juga diterapkan pada model pelaksanaan proyek di lapangan. Jika sebelumnya menggunakan pihak ketiga, kini pemerintah mendorong sistem swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan untuk memaksimalkan dampak sosial bagi warga sekitar.
“Sistemnya nanti swakelola diselenggarakan masing-masing sekolah, karena menurut penelitian kami punya manfaat tidak hanya perbaikan gedung. Tapi juga bisa menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi di daerah,” kata Mu’ti.
Pendekatan swakelola ini diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih berkualitas karena diawasi langsung oleh pihak sekolah, tetapi juga menjadi stimulus ekonomi bagi komunitas lokal. Melalui keterlibatan tenaga kerja daerah, anggaran pendidikan diharapkan berputar langsung di masyarakat setempat. [wir/ian]






