Surabaya (beritajatim.com) – Tagar Shin Tae-yong (STY) Stay yang dilakukan fans sepak bola Timnas Indonesia di berbagai platform media sosial tidak menggoyahkan PSSI untuk mendepak pelatih asal Korea Selatan tersebut. Alasan parafans mengacu pada capian prestasi Timnas dibawah kendali Shin Tae-Yong sejak Desember 2019.
Kuantitas kehadiran supporter ke stadion setiap Timnas bertanding dapat dijadikan sebagai salah satu indikator antusiasme masyarakat sebagai dampak dari cara bermain Timnas Indonesia yang mulai disukai oleh masyarakat.
Capaian Shin Tae-yong misalnya soal ranking Timnas Putra di FIFA, yang awalnya berada pada ranking 173, kini berada pada ranking 127. Selain itu, Indonesia membuat sejarah dengan mengirimkan Timnas U-17, U-20, U-23, dan senior ke putaran final Piala Asia. Indonesia menjadi satu dari sembilan negara yang mengirimkan empat level Timnas ke putaran final Piala Asia.
Lolosnya Timnas Senior ke putaran 3 kualifikasi Piala Dunia 2026 juga merupakan fakta yang tak terbantahkan. Jay Idzes dan kawan-kawan mampu bersaing dengan negara-negara yang sudah menjadi peserta Piala Dunia sebelumnya. Sukses menahan Saudi Arabia 1-1, pada laga Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah (6/9/2024) dan mengalahkannya 2-0 ketika bertanding di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta (19/10/2024) merupakan sejarah bagi sepak bola Indonesia.
Kemudian menahan Bahrain 2-2 di Bahrain National Stadium, Riffa (10/10/2024) dan bermain imbang dengan Australia 0-0 di stadion Gelora Bung Karno (10/9/2024) semakin menguatkan dukungan fans Timnas Indonesia untuk mempertahankan Shin Tae-yong .
Prestasi tersebut sebenarnya juga menjadi acuan PSSI untuk memperpanjang kontrak mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu hingga 2027. Namun pertanyaan besarnya, mengapa PSSI tiba-tiba memutus kontraknya di tengah jalan? Ini menjadi pertanyaan banyak pihak, karena pergantian pelatih saat ini menjadi perjudian bagi keberhasilan Timnas, khususnya Timnas senior yang sedang berjuang lolos ke Paiala Dunia 2026.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menyatakan bahwa pemecatan Shin Tae-yong bukan tanpa alasan karena pihaknya telah melakukan evaluasi dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Ada dua hal yang fundamental menurut pria yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN itu, yakni strategi dan komunikasi. Kedua hal tersebut dipandang menjadi kendala bagi keberlangsungan Timnas dalam menyelesaikan sisa pertandingan di Grup C kualifikasi Piala Dunia.
Patrick Kluivert, legenda sepak bola Belanda santer diberitakan akan menjadi pengganti Shin Tae-yong . Dipilihnya pelatih asal Belanda itu bisa jadi sebagai upaya untuk mengatasi masalah komunikasi dengan pemain. Seperti diketahui, banyak pemain naturalisasi di Timnas senior berasal dari Belanda. Sebenarnya masalah komunikasi bukanlah hal yang terlalu dipersoalkan karena Shin Tae-yong selama ini didampingi penerjemah dan bahasa yang digunakan dalam sepak bola bersifat universal.
Kluivert sebagai pelatih baru Timnas Indonesia mempunyai waktu tidak lebih dari 3 bulan untuk beradaptasi dengan pemain dan atmosfir tim. Beban berat berada di pundak mantan striker Barcelona FC itu. Pasalnya, PSSI sangat berharap prestasi timnas jauh lebih baik dari sebelumnya. Sementara Kluivert sendiri belum memiliki rekam jejak kepelatihan yang mengagumkan di level timnas. Pengalaman menangani Timnas hanya sebatas sebagai asisten pada Timnas Belanda dan Kamerun serta pelatih kepala pada Timnas Curaco.
Disinilah perjudian itu terjadi. Jika Kluivert mampu membawa Timnas lolos ke Piala Dunia, keputusan PSSI tidak salah. Namun sebaliknya, jika prestasi yang dipersembahkan Kluivert dibawah Shin Tae-yong, maka teriakan Fans Timnas Indonesia akan semakin kencang ditujukan kepada PSSI. Belajar dari pengalaman Arab Saudi ketika mengganti Roberto Macini dengan Herve Renard ternyata tidak membawa perubahan yang lebih baik pada Salem Al Dawsari dan kawan-kawan.
Secara teknis sebenarnya Shin Tae-yong masih sangat layak diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugasnya hingga berakhirnya babak kualifikasi Piala Dunia. Siapapun pelatihnya, tidak mudah bagi Timnas untuk bersaing dengan tim sekelas Jepang, Australia, Bahrain Arab Saudi dan China. Peringkat 3 pada klasemen sementara Grup C meruapakan capaian yang diluar prediksi banyak kalangan. Bisa jadi ada hal yang bersifat non-teknis yang menjadi penyebab dilengserkannya pelatih yang belum bisa berbahasa Indonesia itu.
Pergantian pelatih pasti berdampak pada pola permainan tim karena setiap pelatih memiliki filosofi bermain yang berbeda. Tugas berat Kluivert dalam dua bulan kedepan adalah menyiapkan taktikal bermain sesuai dengan style of play tim yang dikehendakinya. Sementara pemain sudah sangat lekat dengan taktikal yang diterapkan Shin Tae-yong. Belum lagi persoalan psikologis pemain yang sudah lama berinteraksi dengan pelatih lamannya. Inilah persoalan yang tidak mudah bagi seorang Kluivert sebagai Head Coach yang baru pada Timnas Indonesia.
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya







1 Komentar
sangat setuju prof.