Nganjuk (beritajatim.com) – Selain di Kabupaten Mojokerto, uji coba pupuk pembenah tanah Forestan, produksi PT Dwi Jaya Ekaprima juga diuji coba di Kabupaten Nganjuk, yakni untuk tanaman bawang merah di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso dan tanaman padi di Desa Ngepal, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
“Padi dan bawang. Cuma yang kemarin kenaikan signifikan di padi karena ada kasus hama wereng sehingga tanaman bawang belum waktunya panen, dipanen. Tapi untuk padinya ini, hasilnya luar biasa,” ungkap Manajer Umum PT Dwi Jaya Ekaprima, Elly Subiyanto, Selasa (3/12/2024).
Sebelumnya, lanjutnya, tiga tahun lahan tersebut tidak ditanami oleh para petani lantaran tanahnya yang kurang subur. Jika pun ditanami, maka hasilnya tidak maksimal. Dari luasan lahan 2.800 meter persegi di Desa Ngepal, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk tersebut hanya menghasilkan 1.400 kg padi.
“Setelah diskusi dengan kita masalah pupuk, kita anjurkan memakai pembenah tanah plus Forestan. Tujuannya supaya tanahnya diperbaiki dulu karena PH-nya memang asam sekali. Itu ternyata setelah saya amati, tanah itu memang tempat berkumpulnya air. Jadi air dari irigasi mana-mana masuknya ke situ, sehingga cenderung asam,” katanya.
Setelah dilakukan uji coba dengan pembenah tanah Forestab, hasil panen naik hingga 78 persen. Dari 1.400 kg menjadi 2.500 kg. Dari luasan lahan 2.800 meter persegi, dibutuhkan pembenah tanah Forestan sebanyak 2 sak dan pupuk NPK 1 sak.
Sebelumnya para petani hanya menggunakan pupuk NPK.
“Selain meningkatkan hasil panen, butiran gabah lebih mentes, berisi dan batang padi tidak gampang roboh. Untuk bawang kita sudah aplikasikan juga di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, hasilnya dibanding lainnya paling bagus karena dia nggak kena hama. Yang lainnya banyak yang mati, karena serangan hama wereng,” jelasnya.

Dari luas lahan 2.200 meter persegi untuk uji coba bawang merah, jelasnya, menghasilkan 3,5 ton bawang merah. Hasil dari uji coba pembenah tanah Forestan, anakan bawang merah banyak, warna bawang merah tidak pucat dan umbinya lumayan besar.
Selain itu, daya tahan terhadap penyakit lebih unggul dan tinggi, sehingga tidak mudah gagal panen.
“Pakai pembenah tanah ini alhamdulilah tetap bertahan. Di Kabupaten Nganjuk masih di dua tempat ini, tanaman padi dan bawang merah. Di pemupukan kedua, tanggal 7 Desember 2024 ini ada beberapa petani mau pakai pembenah tanah Forestan. Yang tadi di luasan 2.800 meter persegi, mau coba di luasan 5 hektar,” tuturnya.
Eli menjelaskan, produk pembenah tanah Forestan untuk saat ini belum bebas dijualbelikan. Pihak PT Dwi Jaya Ekaprima mempersilakan petani yang ingin mencoba pembenah tanah Forestan untuk membeli di petani yang sebelumnya melakukan uji coba.
“Sementara kita taruh di pemakai yang kemarin panen, para petani bisa ambil di situ. Namun ke depannya kalau memang banyak peminat akan kita tunjuk sebagai agen. Jadi seperti itu,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, PT Dwi Jaya Primaeka merupakan Produsen Pupuk Pertanian dan Perkebunan, General Trading Bahan Kimia Tambang & Chemical Water Treatment serta Sewa-menyewa Container Tank (ISO TANK). Di awal tahun 2024, PT Dwi Jaya Ekaprima telah berhasil meluncurkan produk pupuk terbarunya yaitu Pupuk Pembenah Tanah.
Kandungan Pupuk pembenah Tanah ini meliputi antara lain: Phospor, Magnesium dan Calsium dengan merk Forestan. Selain di Kabupaten Nganjuk, suplai demplot pembenah tanah Forestan juga diuji coba di Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Mojokerto. [tin/beq]






