Malang (beritajatim.com) – Buku berjudul Bunga Rampai Satu Dekade Pendidikan Inklusif di Universitas Brawijaya resmi diluncurkan oleh Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB. Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES. menyerahkannya secara simbolis pada perwakilan dari Fakultas Vokasi.
Sebagai informasi vokasi Universitas Brawijaya adalah fakultas penerima mahasiswa difabel terbanyak daripada fakultas lain, yaitu 64 orang, semenjak tahun 2012. Prof Aulanni’am menerangkan bahwa layanan disabilitas resmi berdiri sejak 2012. Melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, pendidikan yang setara bagi penyandang disabilitas diselenggarakan secara langsung. Saat ini LPD menerima mahasiswa difabel melalui Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD).
“Di usia PLD yang kesepuluh ini, saya kira ini waktu yang tepat untuk ingat kembali dan berterima kasih atas peran bapak dan ibu sekalian yang sangat penting dalam pengambilan kebijakan terkait pendidikan inklusif di fakultas-fakultas dan program studi di UB,” ucapnya saat sambutan.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Aulanni’am menyampaikan jika selain menjalankan mandat undang-undang, sistem dan layanan disabilitas begitu berguna pada perkembangan kelembagaan dan akreditasi fakultas dan jurusan di UB.
“Poin tentang pendidikan inklusi terhadap penyandang disabilitas sangat penting dalam akreditasi fakultas dan jurusan. Di samping itu memang sudah kewajiban kita untuk memfasilitasi penyandang disabilitas di perguruan tinggi,” imbuhnya.
Bunga Rampai tersebut dibuat sejak 2021. Buku ini terdiri dari karya tulis pendiri PLD, pengurus, staf, dosen, dan praktisi. Isinya tentang refleksi, pengalaman, dan pengetahuan yang didapatkan selama layanan disabilitas diselenggarakan. Tim editor mengumpulkan tulisan tersebut, melakukan review, dan memproses ke penerbitan hingga terbit di November 2022.
Unita Werdi Rahajeng, M.Psi. salah seorang editor buku, menerangkan, proses pengumpulan tulisan memang tidak mudah. Namun, dokumentasi pada refleksi dan pengetahuan pelaku layanan inklusi-disabilitas sangat penting.
“Saya teringat peribahasa Latin ini, ‘Verba volant, scripta manent’, yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi. Jadi pengalaman dan hasil pikiran berkaitan dengan layanan inklusi-disabilitas ini harus didokumentasikan, salah satunya ini berbentuk buku,” tandasnya.
Fadillah Putra, M.PAff., Ph.D., pendiri dan ketua pertama PLD UB, yang hadir dan berkesempatan berbagi pengalaman menceritakan soal PLD yang baginya adalah manifestasi keilmuan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ub-malang”]
“PLD UB, yang bagi saya masih PSLD ya, merupakan manifestasi keilmuan yang merupa menjadi layanan. Waktu itu, kami memulai dengan diskusi kecil, lalu melakukan advokasi di kampus agar layanan kepada penyandang disabilitas diselenggarakan. Di antara kami sendiri ada penyandang disabilitas yang terlibat. Nothing about us without us. Itu juga yang menjadi alasan mengapa PLD bisa dikatakan sukses,” kenangnya.
Menurut dia, layanan inklusi-disabilitas memang harus dilaksanakan. Undang-Undang Dasar di Indonesia telah menjamin hak semua orang, tak terkecuali penyandang disabilitas. Itulah alasan PLD ada bahkan sebelum mandat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan. [dan/but]






