Jember (beritajatim.com) – Peluang Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi jalur pendakian umum Gunung Argopuro terbuka, menyusul ditutupnya Bremi, Kabupaten Probolinggo. Namun perlu ada kesepakatan semua pihak dengan memperhatikan aspek keamanan dan konservasi lingkungan.
“Pembukaan jalur ini inisiatif dari Pemkab Jember melalui Dinas Pariwisata yang bekerja sama dengan Bappeda. Kami ingin memunculkan destinasi baru sebagai jalur pendakian Hyang Argopuro,” kata Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jember Agus Sucahyo, Kamis (19/9/2024).
Munculnya destinasi baru ini diharapkan Agus bisa berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat setempat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jember.
Pemkab Jember siap mematuhi semua ketentuan yang berlaku, termasuk sebelum dibuka akan dilakukan sejumlah kajian terlebih dulu. “Dampak permasalahan bisa diminimalisasi, setidaknya ada assessment dari pihak-pihak berkepentingan,” kata Agus.
Agus tidak ingin dampak di kemudian hari muncul setelah jalur tersebut benar-benar dibuka untuk umum. “Kami minta pendampingan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam),” katanya.
Sebagai awal, Bappeda Jember telah menggelar forum grup diskusi (FGD) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur dan sejumlah pemangku kepentingan dari masyarakat, pemerintah desa, hingga organisasi pecinta alam, di Rumah Makan Lestari, Rabu (18/9/2024).
Jalur menuju Pegunungan Hyang Argopuro bisa diawali di Desa Suci, Kecamatan Panti, atau Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari. Berdasarkan informasi dari BKSDA, waktu tempuh dari desa Suci ke Cikasur di Argopuro bisa mencapai tiga hari.
Hari pertama, perjalanan yang ditempuh dari Desa Suci menuju Ketajik. Pendaki bisa membuka kemah di dekat mata air yang masih dalam kawasan hutan lindung. Hari kedua, pendaki menempuh perjalanan dari Ketajik menuju Cemoro Kandang untuk berkemah di dekat mata air. Hari ketiga, perjalanan dilanjutkan dari Cemoro Kandang ke Cikasur.
“Kami minta saran dan masukan dari berbagai elemen maupun stakeholder yang hadir dalam acara FGD. Kami akan melibatkan berbagai elemen dalam penyusunan kajian. Kita punya 23 universitas di Kabupaten Jember. Kami akan minta masukan dalam penelitian kelayakan pembukaan jalur,” kata Agus.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan, peluang pembukaan jalur tergantung dari hasil kajian. “Kajian komprehensif terhadap ekologi, sosial, ekonomi, sarana prasarana, sumber daya manusia,” katanya.
Menurut Patria, jalur menuju Argopuro melalui Ketajik sudah terpetakan sejak 2015-2016. Namun dia mengingatkan, jalur itu sudah berusia sepuluh tahun. “Perlu review blocking untuk penetapan kembali apakah itu masih memungkinkan atau tidak. Itulah kenapa kajian komprehensif wajib dilakukan dulu, baru kita bisa bicara layak atau tidak untuk dibuka,” katanya.
Selain itu, pembukaan jalur harus memikirkan kondisi masyarakat setempat. “Tumpuan akhirnya apakah masyarakat setempat jadi sejahtera dengan adanya ini. Seharusnya desa itu dimandirikan dulu kesiapannya. Jangan sampai jalur itu dibuka, desanya belum siap. Itu bisa jadi masalah,” kata Patria.
Patria menyebutkan syarat minimal konservasi yang harus dipenuhi. “Kawasan kami adalah kawasan konservasi. Ada hal-hal yang harus dipedomani dalam kawasan konservasi untuk pengelolaannya.” katanya.
Pembangunan sarana dan prasarana yang berlebihan dan tidak sejalan dengan konservasi lingkungan harus diminimalisasi. Pembukaan jalur tidak boleh mengganggu satwa liar yang ada dan tidak mengubah bentang alam. [wir]







5 Komentar
Kmrn tgl 6 sy mendaki lewat sana dan alhmdllh sukses….
lewatnya desa suci kak ? apakah boleh walau bukan jalur resmi ?
apakah boleh bang amin ?
naiknya dari desa suci kak? apakah bisa walaupun bukan jalur resmi?
Kalau Bremi ditutup,enaknya naik lewat Sumbermalang,Baderan trs turun lewat Jember,,,apakan masih bisa nge camp di Danau Taman Hidup,,??lha ini yg jadi pemikiran,,trims