Magetan (beritajatim.com) – Terkenalnya Magetan dengan sate kelinci turut dibarengi dengan pemanfaatan kulit kelinci. Di tangan pasutri asal Desa Ringinagung Kecamatan/Kabupaten Magetan, limbah kelinci konsumsi itu bisa jadi produk bernilai ekonomi tinggi.Salah satunya dibuat sebagai peci.
Produksi peci itu sudah dibuat sejak tahun 2018 lalu. Berdasarkan keprihatinan Suryo Bagyo yang melihat kulit kelinci dibuang percuma padahal ternyata bisa diolah jadi produk dengan harga jual tinggi.
“Ternyata kan bisa disamak juga seperti kulit sapi. Per lembarnya seharga Rp100 ribu. Tapi kalau di luar negeri sampai Rp400 ribu. Nah, karena itu kami pun belajar menyamak sekaligus membuat produknya yakni peci,” kata Suryo, Jumat (7/4/2023).
Suryo bercerita, dia belajar ke sana kemari agar tahu cara yang pas untuk menyamak kulit kelinci. Utamanya agar bulu kelinci tidak rusak. Kelinci yang memiliki bulu bermotif jadi daya tarik khusus ketimbang berbulu putih polos, hitam polos, atau abu-abu polos.
Pun, berlanjut smenejak adanya Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta di Magetan, dia semakin optimis untuk bisa membuat produk kulit kelinci.
“Setelah jadi sesuai dengan harapan, kami kumpulkan orang-orang untuk mengolah sebagai penambah ekonomi sejak tahun 2018,” jelasnya.
https://beritajatim.com/hukum-kriminal/pria-di-magetan-tega-setubuhi-remaja-difabel/
Dirinya dan sang istri kemudian membentuk kelompok kerja bernama Josy yang anggotanya dari masyarakat. Josy sendiri diambil dari nama orang yang mengajari mereka mulai dari menyamak sehingga dapat membuat produk produk jadi seperti peci, syal, bantal, rompi hingga jaket dari kulit kelinci.
“Satu peci kulit bulu kelinci kami jual mulai dari Rp250 ribu hingga Rp400 ribu tergantung keunikan motifnya ya,” paparnya.
Dari usaha tersebut ada sepuluh orang lebih ibu-ibu yang bergabung. Mulai dari merajut merangkai membuat dasaran. Dalam sehari meraka bisa membawa pulang Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sebagai penambah ekonomi.
Sayangnya, dia sempat bercerita kalau sempat kekurangan modal untuk melayani pesanan dari Malaysia yang sampai 5.000 peci.
“Pernah kami mendapatkan pesanan dari Malaysia sebanyak 5000 peci, namun karena terkendala modol akhirnya kami membatalkannya. Kami saat ini hanya melayani permintaan dalam negeri. Seperti dari Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan,” ungkapnya.
Untuk diketahui, permintaan kulit kelinci yang telah disamak di pasaran tinggi. Namun Suryo memilih tidak menjualnya karena lebih baik dibuat produk jadi agar bisa menyerap tenaga kerja dan menambah ekonomi masyarakat Magetan. [fiq/but]








