Jember (beritajatim.com) – Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Jember kesulitan mencari pebulutangkis putri untuk memperkuat tim dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VIII di Sidoarjo tahun ini.
Dari enam atlet yang dikirimkan ke porprov mendatang, hanya Abkharin Fauziyah yang bertanding dalam nomor tunggal putri. Indy Eprita Salza Nabilah, peraih medali perunggu ganda campuran dalam Porprov VII di Jember tahun lalu, lebih memilih berkonsentrasi menjalani kuliah kedokteran.
Formatur Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Jember Ervan Friambodo mengakui sulit mencari pemain untuk nomor ganda putri dan ganda campuran. “Dari waktu ke waktu, pergerakan atlet putri antara berkonsentrasi ke luar (daerah) dengan fasiitas beasiswa atau berkembang di daerah sendiri. Atlet yang punya ruang prestasi di luar akan mendapatkan kecukupan fasilitas,” katanya, Senin (12/6/2023).
Ervan mencontohkan Febriana Dwipuji Kusuma yang saat ini berada di pelatihan nasional bulutangkis PBSI. Terakhir ia mendapatkan medali emas dan perak dalam SEA Games di Kamboja tempo hari.
PBSI Jember saat ini berusaha membangkitkan para pebulutangkis yang gagal berprestasi tinggi di tingkat nasional atau internasional, namun masih memiliki potensi besar berprestasi di level lokal dan regional. “Atlet-atlet yang gagal perlu kita stimulasi menjadi aset second line. Kita bangga dengan atlet yang berhasil memperoleh medali, tapi kita tidak boleh menafikan atlet-atlet yang gagal,” kata Ervan.
“Kalau atlet-atlet ini tidak kita maintenance dan klub susah karena membutuhkan biaya besar, kita rawat. Alhamdulillah, kita bisa buktikan dengan perolehan dua medali perunggu dalam Porprov VII 2022 di Jember kemarin,” kata Ervan.
Ervan mengatakan, dalam porprov tahun lalu, ada 13 atlet yang diterjunkan dengan hasil dua medali perunggu. “Ini murni pembinaan kami di kabupaten. Tidak atlet luar. Sebenarnya kami mampu menciptakan atlet-atlet dari Jember, tapi dengan konsistensi anggaran pribadi dan mandiri yang kuat,” katanya.
Ervan berharap klub-klub perkumpulan bulutangkis juga berbenah untuk memperbaiki prestasi. “PBSI organisasi yang hanya membuat regulasi. Pembinaan ada pada tanggung jawab klub. Klub harus berlomba-lomba. Ada diskusi dan ada yang perlu dikomunikasikan dengan PBSI, silakan,” katanya. [wir]






