Probolinggo (beritajatim.com) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Probolinggo menggelar debat ketiga atau debat pamungkas Pilkada Kabupaten Probolinggo pada Minggu malam (17/11/2024). Debat yang berlangsung di Gedung Islamic Centre (GIC) Kraksaan ini mengangkat tema “Memperkokoh NKRI dan Kebangsaan.” Dalam debat ini, kedua pasangan calon (paslon) saling memaparkan program unggulan untuk tema yang menjadi perhatian utama masyarakat.
Pasangan calon nomor urut 1, Zulmi-Rasit, mendapat kesempatan pertama untuk menjawab pertanyaan panelis. Abd. Rasit menekankan pentingnya saling menghargai perbedaan, menaati peraturan pemerintah, dan mengingat sejarah persatuan, seperti Sumpah Pemuda. Ia juga mengutip semangat Mahapatih Gajah Mada tentang pentingnya persatuan Nusantara. “Untuk teman-teman, jangan lupa, coblos nomor satu,” ungkap Abd. Rasit sambil mengakhiri paparannya.
Menanggapi hal tersebut, Gus Haris, calon bupati nomor urut 2, mengkritik bahwa pernyataan Abd. Rasit lebih bersifat ajakan daripada program konkret untuk Kabupaten Probolinggo. Ia menawarkan program “Adat Kenduri Kebhinekaan” berbasis kearifan lokal guna mempererat rasa persatuan di tengah masyarakat. “Program ini adalah wujud nyata bagaimana kearifan lokal bisa menjadi perekat kebangsaan,” ujarnya.
Calon bupati nomor urut 1, Zulmi Noor Hasani, merespons dengan mengedepankan pentingnya merawat kebudayaan di Kabupaten Probolinggo. Zulmi menyatakan pihaknya akan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam setiap acara budaya untuk memastikan semua elemen masyarakat merasa dihargai. “Kami ingin setiap event budaya tidak mengkerdilkan pihak manapun,” tegasnya.
Giliran paslon nomor urut 2, Gus Haris-Lora Fahmi, mendapat pertanyaan dari panelis terkait tema yang sama. Gus Haris menyampaikan bahwa Kabupaten Probolinggo sebagai daerah multi-etnis memerlukan pendekatan khusus. Salah satu program unggulannya adalah “Sambang Budaya,” yang akan menjadi wadah berkumpulnya tokoh budaya untuk mempromosikan toleransi dan menghapus sekat-sekat perbedaan. “Melalui program ini, toleransi akan terbentuk secara alami,” ungkapnya.
Zulmi kembali merespons dengan menekankan pentingnya penguatan identitas melalui pendidikan. Ia menyebut perlunya penanaman kepribadian dan penguatan identitas lokal, seperti penggunaan udeng oleh pelajar dan ASN. “Bukan hanya seragam, tapi juga bagaimana kepribadian ini menjadi bagian dari identitas kita,” jelas Zulmi.
Menutup debat, calon wakil bupati nomor urut 2, Fahmi AHZ, menilai ide yang disampaikan Zulmi adalah pengulangan program mereka. “Apa yang kami sampaikan sudah cukup baik, dan ini diakui oleh paslon lawan,” sindirnya. Dengan berbagai paparan program ini, masyarakat Kabupaten Probolinggo diharapkan dapat menentukan pilihan berdasarkan visi terbaik untuk memperkokoh NKRI dan kebangsaan. (Ada)






