Kediri (beritajatim.com) – Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri melalui program pembinaan kerja di SAE Lakuli, berhasil mencatatkan panen sebanyak 18 kuintal terong dalam tiga bulan terakhir. Panen ini merupakan hasil dari 12 kali pemanenan bertahap yang dilakukan di lahan budidaya milik lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Solichin, mengatakan bahwa hasil ini mencerminkan keberhasilan dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan bentuk nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
“Melalui program pembinaan kerja di SAE Lakuli berhasil meraih hasil maksimal dari budidaya tanaman terong, dengan total 12 kali panen yang dilakukan selama 3 bulan terakhir,” ujarnya, pada Rabu (30/4/2025).
Setiap panen menghasilkan sekitar 1,5 kuintal terong. Tanaman ini dibudidayakan di atas lahan seluas 300 meter persegi dengan sistem perawatan intensif oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
“Tanaman terong ini ditanam di atas lahan seluas 300 meter persegi dan dirawat dengan perhatian intensif oleh WBP yang terlibat dalam program tersebut. Pemupukan dilakukan setiap selesai panen, sementara penyemprotan hama dilakukan setiap bulan untuk menjaga kesehatan tanaman dan kualitas hasil panen. Program ini mencerminkan komitmen Lapas Kediri dalam menciptakan lingkungan yang produktif dan ramah terhadap keberlanjutan pertanian,” terangnya.
Program ini melibatkan empat orang WBP yang bekerja dari proses pembibitan, perawatan, hingga panen. Mereka juga mendapatkan pembekalan keterampilan pertanian sebagai bekal saat bebas nanti.
“Dengan pembekalan keterampilan praktis yang didapatkan, WBP tidak hanya berperan aktif dalam menjaga kelangsungan program, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga yang dapat bermanfaat untuk kehidupan mereka setelah bebas,” imbuhnya.
Sebagian hasil panen terong tersebut disalurkan kepada penyedia bahan makanan (bama), dan sebagian lainnya diberikan kepada masyarakat sekitar.
Menurut Kalapas, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi arahan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Kegiatan ini merupakan implementasi arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar ketahanan pangan, program ini menjadi wadah pembelajaran bagi WBP. Program ini tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga sebagai wadah bagi WBP untuk belajar keterampilan pertanian yang dapat mereka manfaatkan setelah bebas nanti.
“Program ini memberikan manfaat besar bagi WBP dalam hal pembekalan keterampilan praktis yang berguna untuk kehidupan mereka setelah kembali ke masyarakat,” terusnya.
Dengan belajar bekerja di lapangan, WBP memperoleh ilmu yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di luar penjara. Tak hanya itu, Kalapas menyebut bahwa program ini juga membawa dampak positif bagi citra lembaga pemasyarakatan.
“Program ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Lapas Kediri, yang tidak hanya berfokus pada pemasyarakatan, tetapi juga pada rehabilitasi dan pemberdayaan sosial WBP,” bebernya.
Dengan hasil panen yang menggembirakan ini, Lapas Kediri akan terus mengembangkan berbagai program keterampilan lainnya sebagai bagian dari upaya reintegrasi sosial yang berkelanjutan. [nm/aje]






