Lamongan (beritajatim.com) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi tantangan tersendiribagi Kabupaten Lamongan di bidang kesehatan masyarakat.
Dalam enam bulan pertama tahun 2025, tercatat 671 orang terinfeksi DBD. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 553 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Lamongan, Mafidhatul Laely, menyebutkan dari total kasus tersebut, 334 di antaranya adalah laki-laki dan 337 perempuan.
“Anak-anak menjadi kelompok usia yang paling rentan terserang DBD. Hal ini disebabkan oleh faktor daya tahan tubuh yang belum sekuat orang dewasa,” kata Laely, Selasa (15/7/2025).
Menurut Laely, salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya kasus DBD adalah perubahan musim yang cukup ekstrem belakangan ini.
“Musim pancaroba dari April hingga Juni menjadi periode rawan. Tercatat ada tambahan 238 kasus hanya dalam tiga bulan tersebut. Daerah yang paling terdampak antara lain Kecamatan Brondong dan Kecamatan Solokuro,” ujarnya.
Selain faktor cuaca dan daya tahan tubuh, kondisi lingkungan dinilai turut berperan besar dalam memicu penyebaran nyamuk Aedes aegypti, sebagai faktor utama penularan DBD.
Laely menyebut, masih banyak wilayah pemukiman yang memiliki genangan air, baik di selokan, pot bunga, maupun di kebun-kebun yang tak terurus.
“Kemungkinan besar hal ini terjadi karena gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang belum optimal. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga masih harus ditingkatkan,” tuturnya.
Menghadapi tingginya kasus DBD ini, Dinas Kesehatan Lamongan kembali menyerukan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mencegah penyebaran DBD. Menurut Laely, pola hidup bersih dan sehat serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci utama menekan angka kasus.
“Langkah sederhana seperti menguras, menutup, dan mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air harus dilakukan secara rutin. Jangan menunggu petugas datang, aksi pemberantasan sarang nyamuk harus dimulai dari rumah masing-masing,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga telah mengintensifkan program sosialisasi di wilayah rawan serta menggalakkan fogging pada kawasan endemis.
“Meskipun ada foghing, PSN mandiri tetap harus dilakukan, karena fogging hanya solusi jangka pendek dan tidak efektif tanpa dibarengi PSN secara mandiri,” ucapnya. [fak/aje]






