Provinsi Jawa Timur (Jatim) bukan monokultur sebagaimana Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jawa Timur itu multikultur. Potret sosio kultural masyarakat Jatim yang beragam tersebut berimplikasi terjadinya pengaplingan politik warganya.
Karena itu, partai politik (parpol) mainstream yang dominan di Jatim tak bersifat tunggal dalam perspektif platform ideologisnya. Secara obyektif, di ranah politik Jatim, partai berideologi Nasionalis dan berpaham Religius (Islam Tradisional) berada di tataran posisi yang berimbang.
Partai berideologi Nasionalis dimaksud dalam konteks ini adalah PDI Perjuangan (PDIP), wadah berpolitik kaum Nasionalis yang punya irisan historis, kultural, dan ideologi politik dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), pemenang di Pemilu 1955.
Masyarakat Jatim yang berada di tlatah Mataraman dari sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu terakhir tahun 2019 tetap loyal kepada partai-partai Nasionalis, terutama PDIP. Sebagian besar kabupaten/kota di Jatim pada Pemilu 2019 dimenangkan PDIP. Kecuali di Kabupaten Pacitan, wilayah tempat kelahiran dan masa remaja Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sekaligus penggagas Partai Demokrat. Partai berlambang Bintang Mercy ini memenangkan kontestasi Pemilu 2004, 2009, 2014, dan 2019 di Kabupaten Pacitan.
Mayoritas masyarakat Jatim yang bermukim di tlatah Madura dan Pendalungan sejak lama, secara sosio kultural dan sosio politik, lebih loyal kepada pada partai yang berbasis massa Islam Nahdlatul Ulama (NU). Seperti Partai NU di Pemilu 1955 dan 1971, serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
Dominasi politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di era Reformasi begitu kuat di pemilu pasca-runtuhnya rezim Orde Baru Soeharto. Pada Pemilu 1955, pemilu pertama setelah Indonesia merdeka, Partai NU merupakan kekuatan dominan di kawasan tlatah Madura dan Pendalungan. Bahkan, Partai NU menjadi pemenang di daerah pemilihan Jatim pada Pemilu 1955.
Dominasi PKB di kawasan tlatah Madura dan Pendalungan Jatim itu berlangsung sampai sekarang, kecuali di Pemilu 2009. Sebab, saat itu PKB mengalami konflik internal akut sehingga mengakibatkan terjadinya fragmentasi politik internal menjelang Pemilu 2009.
Selain itu, di kawasan Madura dan Pendalungan, ulama atau kiai tetap kokoh sebagai tokoh panutan warga. Pengaruh kiai sangat kuat dan ikut merambah ke ranah pilihan politik warganya. Kiai tak sekadar sebagai ‘konsultan’ dan imam urusan ritual religius dan aspek sosial budaya lain. Tapi, kiai adalah potret figur role model bersifat paripurna yang dikuti dan dipatuhi nasihat dan fatwanya.
Di kalangan santri, kiai bukan sekadar tokoh agama. Kiai adalah tokoh sosial keagamaan, patron politik, dan guidance kultural yang ditaati pandangannya.

Secara garis besar ada empat tlatah kebudayaan besar di Jatim: Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pendalungan. Selain itu, masih ada tlatah kebudayaan lebih kecil yang terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep). Wilayah kebudayaan ini berdampak pada pengaplingan dan diferensiasi politik secara tegas yang berlangsung dari pemilu ke pemilu sejak Indonesia merdeka.
Terlepas dari pokok bahasan tlatah kebudayaan lainnya, yang penting diperhatikan adalah kawasan tlatah Arek, wilayah yang berada di timur Jawa Mataraman dan sisi timur Kali Brantas. Tlatah Arek membentang dari utara ke selatan, dari Surabaya sampai Malang.
Kawasan budaya ini tempat terjadinya melting pot berbagai varian kebudayaan dari Indonesia maupun asing: Arab (Islam), India, China, dan lainnya. Ciri komunitas Arek di antaranya memiliki semangat juang tingi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, mau mendengarkan saran orang lain, dan mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui cara jalan tengah (sama-sama enak).
Tlatah Arek, dalam perspektif politik elektoral, sering disebut sebagai wilayah ‘abu-abu’, karena keberimbangan antara pendukung partai-partai Nasionalis dan partai Religius (khususnya PKB). Di kawasan ini hampir semua partai mampu merengkuh insentif elektoral, seperti Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai NasDem, PKS, PAN, dan PPP. Sejauh catatan yang ada, raihan suara elektoral PDIP dan PKB umumnya lebih tinggi dan lebih besar dibanding partai-partai lainnya.
Misalnya, hasil Pileg 2019 lalu menunjukkan bahwa PDIP mampu merengkuh 3 kursi DPR RI dari dapil 1 Jatim (Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo). PKB dengan dua kursi DPR RI dari dapil 1 Jatim. Sedang partai lainnya: PKS, PAN, Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai NasDem masing-masing satu kursi DPR RI dari dapil 1 Jatim.
Kesesuaian fakta antara pilihan konstituen di satu kawasan kebudayaan tertentu dengan latar politik, sosiologis, kultural, dan ideologis dari calon presiden-wakil presiden yang dipilihnya tergambar kuat pada hasil Pilpres 2014 di Jatim. Di mana hampir di semua kawasan Jawa Mataraman Jatim, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) unggul mutlak atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Secara keseluruhan, di daerah pemilihan Jatim, pasangan Prabowo-Hatta dengan 10.277.088 suara (46,83 persen) dan pasangan Jokowi-JK dengan 11.669.313 suara (53,17 persen). Total suara sah sebanyak 21.946.401 suara.
Sekadar gambaran tentang keunggulan Jokowi-JK yang diusung PDIP dan sejumlah partai lainnya di Pilpres 2014 di kawasan Jawa Mataraman di Jatim bisa dilihat dari hasil penghitungan suara di Kabupaten Ponorogo, di mana Prabowo-Hatta dengan 250.385 suara (47,15 persen) dan Jokowi-JK dengan 280.689 suara (52,85 persen). Kemudian di Kabupaten Trenggalek, Prabowo-Hatta dengan 140.980 suara (34,49 persen) dan Jokowi-JK dengan 267.772 suara (65,51 persen). Di Kabupaten Tulungagung, Prabowo-Hatta dengan 210.972 suara (34,45 persen) dan Jokowi-JK dengan 401.482 suara (65,55 persen).
Selanjutnya, di Kabupaten Blitar, Prabowo-Hatta dengan 194.251 suara (28,44 persen) dan Jokowi-JK dengan 488.724 suara (71,56 persen). Lalu di Kabupaten Kediri, Prabowo-Hatta dengan 294.429 suara (32,22 persen) dan Jokowi-JK dengan 619.456 suara (67,78 persen), serta di Kabupaten Ngawi, Prabowo-Hatta dengan 200.735 suara (39,84 persen) dan Jokowi-JK dengan 303.169 suara (60,16 persen).
Nyaris tak ada kabupaten/kota di kawasan Jawa Mataraman Jatim yang dimenangkan pasangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014, terkecuali di Kabupaten Pacitan. Pengaruh politik dan elektoral Partai Demokrat sangat dominan, sehingga berdampak pada kemenangan Prabowo-Hatta di sana. Di Pacitan, Prabowo-Hatta dengan 205.365 suara (64,64 persen) dan Jokowi-JK dengan 112.332 suara (35,36 persen).

Fenomena politik terjadi di Pilpres 2019. Secara umum, hasil Pilpres 2019 di Jatim menunjukkan kesesuaian pilihan politik warga di satu kawasan kebudayaan tertentu dengan latar belakang politik, sosial, kultural, dan ideologis figur capres-cawapres yang diusung. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin unggul mutlak vis a vis Prabowo-Sandi Uno di seluruh tlatah kebudayaan di Jatim, terkecuali di tlatah kebudayaan Madura Pulau dan Pacitan (Mataraman). Di semua kabupaten/kota lainnya disapu bersih duet Jokowi-Ma’ruf Amin.
Di Jatim pada Pilpres 2019, terdapat 130.171 tempat pemungutan suara dan 30.912.994 orang yang masuk ke dalam daftar pemilih tetap. Di kawasan Jawa Mataraman, seperti di Kabupaten Blitar, Jokowi-Ma’ruf dengan 638.096 suara (85,21 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 110.751 suara (14,79 persen). Di Kabupaten Kediri, Jokowi-Ma’ruf dengan 815.883 suara (82,50 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 173.098 suara (17,50 persen). Di Kota Blitar, Jokowi-Ma’ruf dengan 73.660 suara(77,74 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 21.086 suara (22,26 persen). Di Kota Kediri, Jokowi-Ma’ruf dengan 143.991 suara (78,71 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 38.955 suara (21,29 persen).
Selanjutnya, di Kota Madiun, Jokowi-Ma’ruf dengan 84.998 suara (71,39 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 34.069 suara (28,61 persen). Di Kabupaten Madiun, Jokowi-Ma’ruf dengan 333.938 suara (74,65 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 113.418 suara (25,35 persen). Di Kabupaten Magetan, Jokowi-Ma’ruf dengan 286.038 suara (67,71 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 136.383 suara (32,29 persen). Di Kabupaten Nganjuk, Jokowi-Ma’ruf dengan 541.179 suara (80,40 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 131.953 suara (19,60 persen). Lalu di Kabupaten Ngawi, Jokowi-Ma’ruf dengan 424.178 suara (78,11 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 118.860 suara (21,89 persen).
Di Kabupaten Trenggalek, Jokowi-Ma’ruf dengan 351.868 suara (77,01 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 105.036 suara (22,99 persen), dan di Kabupaten Tulungagung, Jokowi-Ma’ruf dengan 550.644 suara (81,83 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 122.250 suara (18,17 persen).
Hanya di Kabupaten Pacitan, pasangan Prabowo-Sandi mampu mengandaskan harapan duet Jokowi-Ma’ruf untuk menyempurnakan kemenangan mereka di kawasan Jawa Mataraman di Jatim pada Pilpres 2019. Di Pacitan, Jokowi-Ma’ruf dengan 116.196 suara (33,49 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 230.810 suara (66,51 persen). [air/bersambung]
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab beritajatim.com






