Malang (beritajatim.com) – Pakar politik Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin, S.AP., M.PA., memandang, proses pemilihan Gibran Rakabuming Raka sebagai pasangan bakal calon wakil presiden Prabowo Subianto terkesan dipaksakan. Banyak nama kandidat calon wakil presiden lain yang secara kualitas kapabel untuk mendampingi Prabowo.
“Menurut saya kok itu terkesan dipaksakan ya. Banyak itu yang quality kapabel, ada AHY, Erick, ada dari partai-partai lain. Lantas mengapa mengusung Gibran. Nah ini kan yang yang perlu dianalisa dan Gibran yang tadinya tidak masuk umurnya, tetapi dengan Keputusan MK yang mengikat, umurnya nggak masalah yang penting pernah menjadi kepala daerah,” ujarnya melalui sambungan WhatsApp, Selasa (7/11/2023) malam.
Keputusan MK lantas membentuk opini publik dan persepsi publik bahwa pasangan itu dirasa kurang pas. Bahkan ada persepsi terkait politik dinasti dan lain sebagainya. Dengan berbagai persepsi negatif dari masyarakat itu, elektabilitas Prabowo-Gibran bisa menurun.
“Pandangan saya dilihat dari prosesnya. Kenapa MK ikut campur ya? Apa karena masih saudara jadi itu dikaitkan gitu loh. Ini menjadi upaya snowball jadi bola salju yang selalu bergulir terus. Ini kalau kalau sampai pencoblosan bergulir maka elektabilitas atau kepercayaan masyarakat kepada Prabowo-Gibran itu akan turun,” katanya.
BACA JUGA: Gandeng Gibran, Pengamat Universitas Jember: Prabowo Hancurkan Momentumnya Sendiri
Menurut dosen administrasi publik ini, bola salju terkait persepsi publik perlu diwaspadai oleh tim sukses Prabowo-Gibran. Ia memandang bahwa pemilih di Indonesia seperti piramida yang mengerucut ke atas.
“Bukan piramida terbalik, tetapi piramida seperti segitiga. Jadi pemilih rasional, pemilih yang apa yang berpendidikan itu lebih kecil posisinya, ada di atas saja. Namun, yang dibawah yang akar rumput itu banyak pemilih pragmatis,” kata dosen jebolan UGM ini.
Keberadaan Gibran juga dapat dipandang menarik pemilih pemula. Gibran dapat berpengaruh, meski tidak seberapa. “Bisa saja kan karena ada ikatan seperti ini yang muda aja ya sama-sama muda saya memilih Gibran aja lah,” ujar pria yang menjalani S1 di UB jurusan administrasi publik ini.
Hal menarik lainnya dapat dilihat dari partai di kubu Prabowo, PSI. Baliho PSI yang begitu masif dipandangnya dapat mengaburkan opini yang yang negatif untuk pasangan Prabowo-Gibran.
BACA JUGA: Pengamat Unair: Gibran Bebani Elektabilitas Prabowo
“Menurut saya itu mengaburkan, ini menarik menurut saya. Di pelosok ya kalau saya perjalanan ke arah Banyuwangi, Malang, juga banyak sekali arah Probolinggo, Banyuwangi, banyak sekali PSI yang ada Kaesangnya. Itu mengaburkan opini yang dihembuskan terkait politik dinasti dan lain sebagainya, ini menarik,” kata Andhyka.
Ia juga menanggapi terkait hasil survei yang ada. Hasil survei belum bisa dipegang untuk saat ini karena bisa banyak berubah, dan ke depan dalam politik tidak bisa menggambarkan dan memprediksikan. “Nanti Setelah dibolehkannya kampanye ada strategi kampanye apa nih untuk Prabowo-Gibran ini kan kita juga belum tahu,” tutur Andhyka.
“Kalau kita lihat kan hanya deklarasi, terus Ibaratnya mengenalkan ke pabrik bahwa saya sebagai calon presiden dan wakil presiden. Kalau data itu akan berubah dan itu tidak akan mempengaruhi karena tingkat pendidikan politik masyarakat di Indonesia ini belum sepenuhnya melek politik,” ungkapnya menutup. [dan/suf]






